Pendekatan Analisis Sastra Ekspresif dan Pragmatik
Laporan Bacaan 13 oleh:
Berlian Putri Arifin 21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd
Pendekatan Analisis Sastra Ekspresif dan Pragmatik
A. PENAHULUAN
Persoalan penting dalam penelitian dan analisis sastra adalah bagaimana
cara mendekatinya. Pendekatan terhadap karya sastra menurut Abrams ada
empat (dalam Harjito, 2005:23) yaitu, objektif, mimetik, pragmatik, dan ekspresif.
Pendekatan objektif menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang otonom,
berdiri sendiri, lepas dari dunia politik, ekonomi, dan hal-hal yang berada di luar
unsur intrinsik. Pendekatan mimetik memandang adanya hubungan antara karya
sastra dengan masyarakatnya. Pendekatan pragmatik menyadari adanya hubungan
karya dengan pembaca. Pendekatan ekspresif memerlukan data yang berasal dari
pengarang yang bersangkutan atau dari pengarang karya sastra yang diteliti. Sering dikatakan bahwa sastra memang mencerminkan kenyataan.
Pendapat ini
disebut juga penafsiran memetik mengenai sastra. Hubungan antara
kenyataan dalam sastra adalah hubungan dialektik atau bertetangga. Mimesis
tidak mungkin tanpa kreasi tetapi kreasi tidak mungkin tanpa mimesis. Takaran
dan perkaitan antara kedua-duanya dapat berbeda menurut kebudayaannya,
menurut jenis sastra, zaman, kepribadian pengarang (Teeuw, 2013:189).
Sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis
pada kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat
istiadat zaman itu. Pengarang menggubah karyanya selaku seorang warga
masyarakat dan menyapa pembaca yang sama-sama dengan dia merupakan warga
masyarakat tersebut.
B. PENDAHULUAN
a. Pendekatan Ekspresif
1. Hakikat Pendekatan Ekspresif
Kritik ekspresif mendefinisikan karya sastra sebagai ekspresi atau curahan, atau ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair yang beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan; kritik itu cenderung menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau kecocokan vision pribadi penyair atau keadaan pikiran; dan sering kritik ini mencari dalam karya sastra fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar ataupun tidak, telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut (Pradopo, 1997:193).
Dan pendapat lain menyatakan, pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981:189). Menurut Semi (1984), pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya ke dalam karya sastra.
Pendekatan kritik ekspresif ini menekankan kepada penyair dalam mengungkapkan atau mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang ketika melakukan proses penciptaan karya sastra. Pengarang menciptakannya berdasarkan subjektifitasnya saja, bahkan ada yang beranggapan arbitrer. Padahal, ekspresif yang dimaksud berkenaan dengan daya kontemplasi pengarang dalam proses kreatifnya, sehingga menghasilkan sebuah karya yang baik dan sarat makna.
Para kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, persepsi-persepsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra. Kritikus cenderung menimba karya sastra berdasarkan kemulusan, kesejatian, kecocokan penglihatan mata batin pengarang/keadaan pikiranya.
2). Langkah Penerapan Pendekatan Ekspresif
Karena pendekatan ini merupakan pendekatan yang mengaitkan sebuah karya sastra dengan pengarangnya. Maka, ada beberapa langkah dalam menerapkan pendekatan ekspresif.
Langkah pertama, seorang kritikus harus mengenal biografi pengarang karya sastra yang akan dikaji.
Langkah kedua, melakukan penafsiran pemahan terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, seperti tema, gaya bahasa/ diksi, citraan, dan sebagainya. Menurut Todorov dalam menafsirkan unsur-unsur karya sastra bisa dengan cara berspekulasi, sambil juga meraba-raba, tetapi sepenuhnya memiliki kesadaran diri, dari pada merasa memiliki pemahaman tetapi masih buta. Artinya, seorang kritikus boleh bebas melakukan penfasiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra.
Langkah ketiga, mengaitkan hasil penafsiran dengan berdasarkan tinjauan psikologis kejiwaan pengarang. Asumsi dasar penelitian psikologi sastra antara lain dipengaruhi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconcius) setelah jelas baru dituangkan kedalam bentuk secara sadar (conscius). Dan kekuatan karya sastra dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam sebuah cipta sastra.
3). Penerapan Pendekatan Ekspresif
Novel tarian Badai karya B B Triatmoko
Judul : Tarian Badai
No. ISBN : 9786028174824
Penulis : B.B. Triatmoko
Penerbit : Galang Press
Tanggal terbit : Juli – 2012
Jumlah Halaman : 184
Berat Buku : -
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi(L x P) : -
Kategori : Sosial-Budaya
Text Bahasa : Indonesia
Bermula dari pertemuan yang tidak disengaja, diacara pernikahan, bukit dan ana bertemu, tapi hanya
sebentar ia dapat memandangi sosok peerempuan yang cantik jelita yang sedang menari dengan gemulai, tak sempat ia menghilangkan rasa ingin tahunya, ana sudah turun dari atas panggung.
Bukit melanjutkan kehidupan sehari-harinya, tak terasa dia telah menyelesaikan program S1, dia pun melanjutkan studinya ke Amerika Boston, meninggalkan ana, sahabatnya Seto dan saingannya Daniel. Tak berapa lama kemudian ana bertemu Daniel di sanggar lukis, keduanya menjalin cinta sampai bertunangan, ana pergi ke boston Amerika untuk menjadi duta bangs.
Disaat bukit berjalan-jalan di kampusnya, tak sengaja dia menemukan sosok yang pernah menggetarkan hatinya, dari situla hubungan seita terjalin, saat pementasan mendekat sahabat bukit seto diculik, maka bukit harus meninggalkan ana yang akan menunjukan perform. Karena di Indonesia sedang mengalami masa genting, masa yang paling suram yang pernah terjadi di Indonesia, pemerkosaan, penculkan, pembunuhan, merajalela.
Setelah pementasan, ana langsung pulang, yang dilihatnya adalah keadaan terburuk, daniel terluka parah, bukit dalam keadaan paling buruk yaitu sahabat baiknya meninggal dunia. Daniel menyerahkan ana pada bukit karena dia telah berjanji pada seto, akan menjaga keluarga kecilnya
Pendekatan Penelitian
Dalam menganalisis novel tarian Badai karya B B Triatmoko, menggunakan pendekatan ekspresif yang mengulas karya sastra sebagai ekspresi atau curahan, atau ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair yang beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan, kritik itu cenderung menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau kecocokan vision pribadi penyair atau keadaan pikiran, dan sering kritik ini mencari dalam karya sastra fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar ataupun tidak, telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut
Penafsiran Novel
Tokoh dan Penokohan
Ana sang tokoh utama (protagonist): anak dari keluarga terpandang di Jogjakarta, memiliki sifat ramah, sopan santun, lembut, tekun, selalu ingin tahu.
Bukit sebagai tokoh (protagonist): anak keluarga kaya, memiliki sifat, penyayang, suka menolong, dapat terombang ambing dalam perasaannya, setiakawan, berpikiran luas.
Daniel sebagai tokoh utama (protagonist): anak dari konglongmerat Sumatra, memiliki sifat, sopan, rendah hati, teguh, berpikiran luas, mandiri, pendiam.
Seto sebagai pembantu (protagonist): teman bukit pemalu, gigih, cerdas, berjiwa sosial.
Dian sebagai pembantu (protagonist): istri seto, mrmiliki sifat, penyayang, cerdas, pandai berbicara, setia, kalem.
Ayah Ana sebagai pembantu (protagonist): bijaksana, kolot, ramah, sopan.
Ibu ana sebagai pembantu (protagonist); penyayang, ramah, sopan, tidak kolot.
Pak sitorus sebagai pembantu (protagonist): ayah Daniel, ceria, penyayang, bijaksana, ramah.
Ibu sitorus sebagai pembantu (protagonist): ibu Daniel, pendiam
Yana sebagai pembantu (protagonist) teman Ana
Ibu yana sebagai pembantu (protagonist) Ibu Yana
Alvin sebagai pembantu (protagonist) teman Bukit
Christina sebagai pembantu (protagonist) teman Buikt
Kenneth sebagai pembantu (protagonist) teman Bukit
Heather sebagai pembantu (protagonist) teman Bukit
Pater Consolmagno sebagai pembantu (protagonist) professor teman Bukit
Wiji Teha sebagai pembantu (protagonist) teman Daniel dan Seto
Pak Dikun sebagai pembantu (protagonist) sopir Seto
Pak Komandan sebagai pembantu (antagonis)
Michelle sebagai pembantu (protagonist) teman Bukit
Tema
Tema yang digunakan pada novel Tarian Badai sosial, persahabatan, dan cinta. makna yang terkandunng dalam tema ini adalah “perjuangan tanpa didasari rasa cinta tidak akan membuahkan hasil yang dapat membuat orang bahagia, dan apabila semua perjuangan diiringi oleh rasa cinta akan mebuahkan hasil yang sangat membahagiakan, walau melewati jalan kematian”.
3). Amanat
“Penari itu! Bukit masih ingat ketika pertama kali dia melihatnya di upacara perkawinan di Jawa. Semua ingatan sekian tahun lalu seprti dihidupkan kembali.”(hal 80)
penggalan kalimat ini bermakana:
Saat mengira cinta menghilang dari hadapan, ternyata cinta hanya bersembunyi, dan menunggu waktu yang tepat untuk keluar.
“Teman-teman, kita memang sudah kepalng tanggung. Kita tidak bisa mundur lagi demi menyelamatkan bangsa ini”
Penggalan kalimta ini bermakna:
Saat kita membela kebenaran, hendaklah kita lakukan penuh dengan keyakinan
4) Alur atau Plot
Dalam menyusun cerita ini pengarang menggunakan alur maju, ceritanya dimulai dari eksposisi, konplikasi, klimaks, dan berakhir dengan pemecahan masalah.
5) Latar atau Setting
Pengambilan latar/setting pada novel ini terbagi atas dua bagian latar waktu dan latar tempat. Diantaranya: di kota Jogja, sanggar tari, gedung kesenian Jakarta, Jalan Slamet Riyadi, Boston, Newburry street, Roxburry. Latar waktu: th 1998.
6) Biografi Pengarang
BB Triatmoko, SJ adalah seorang Romo (pastor), dia lahir di Tanjung Balai Karimun, tahun 1965. Masuk novisiat ordo Jesuit tahun 1984 dan ditahbiskan sebagai imam tahun 1994. Tahun 2000-2009 bertugas sebagai direktur Akademi Teknik Mesin (ATMI) Surakarta. Sejak tahun 2009 menjabat sebagai ketua Yayasan ATMI. Latar belakang pendidikan mencakup bidang Filsafat, Teknologi dia sering melakukan pencerahan diberbagai tempat yaitu ASM Semarang, STIKES-AKPER St.Elisabet Semarang, Sekolah Tinggi Patoral Kateketik ( STPKat) St. Fransiskus Asisi Semarang dan ASMI Santa Maria Yogyakarta.
b. Pendekatan Pragmatik
1). Hakikat Pendekatan Pragmatik
Secara umum pendekatan pragmatik adalah pendekatan kritik sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra. Munculnya pendekatan pragmatik bertolak dari teori resepsi sastra dalam khasanah pemahaman karya sastra yang merupakan reaksi terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pendekatan struktural. Sebab pendekatan struktural ternyata tidak mampu berbuat banyak dalam upaya membantu seseorang dalam menangkap dan memberi makna karya sastra. Pendekatan struktural hanya dapat menjelaskan lapis permukaan dari teks sastra karena hanya berbicara tentang struktur atau interalasi unsur-unsur dalam karya sastra. Banyak segi lain yang diperlukan untuk lebih menjelaskan makna karya sastra. Untuk dapat menangkap segi-segi lain itu para pakar mengemukakan sebuah pendekatan baru, yaitu pendekatan pragmatik.
Pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan, moral agama atau tujuan yang lainnya. Pendekatan pragmatik mengkaji karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan tujuan-tujuan tertentu bagi pembacanya. Semakin banyak nilai-nilai, ajaran-ajaran yang diberikan kepada pembaca maka semakin baik karya sastra tersebut.
Definisi lain mengatakan bahwa pendekatan pragmatik adalah pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya terhadap peranan pembaca dalam menerima, memahami, dan menghayati karya sastra. Pembaca memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan sebuah karya yang merupakan karya sastra atau bukan. Horatius dalam art poetica menyatakan bahwa tujuan penyair ialah berguna atau memberi nikmat, ataupun sekaligus memberikan manfaat dalam kehidupan. Dari pendapat inilah dimulai pendekatan pragmatic, (Wahyudi Siswanto, 2008: 181-191).
2). Pengertian Pendekatan Pragmatik Menurut para Ahli
Secara umum pendekatan pragmatik adalah pendekatan kritik sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra dalam zaman ataupun sepanjang
Sedangkan menurut para ahli mendefinisikan pendekatan pragmatik adalah sebagai berikut:
1. Menurut Teeuw, 1994 teori pendekatan pragmatik adalah salah satu bagian ilmu sastra yang merupakan pragmatik kajian sastra yang menitik beratkan dimensi pembaca sebagai penangkap dan pemberi makna terhadap karya satra.
2. Relix Vedika (Polandia), pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang tak ubahnya artefak (benda mati) pembacanyalah yang menghidupkan sebagai proses konkritasi.
3. Dawse dan User 1960, pendekatan pragmatik merupakan interpensi pembaca terhadap karya sastra ditentukan oleh apa yang disebut “horizon penerimaan” yang mempengaruhi kesan tanggapan dan penerimaan karya sastra.
Pendekatan ini menganut prinsip bahwa sastra yang baik adalah sastra yang dapat memberi kesenangan dan kaidah bagi pembacanya dengan begitu pendekatan ini menggabungkan unsur pelipur lara dan unsur dedaktif. Pemanfaatan pendekatan ini harus berhadapan dengan realitifitas konsep keindahan dan konsep nilai dedaktif. Setiap genersai,setiap kurun tertentu diharuskan menceritakan nilai keindahan hal itu tidak berarti bahwa interprestasi hanya subjektif belaka.
3). Metode Pendekatan Pragmatik
Penelitian resepsi pembaca terhadap karya sastra dapat menggunakan beberapa meatode pendekatan,antara lain pendekatan yang bersifat eksperimental, melalui karya sastra yang mementingkan karya sastra yang terikat pada masa tertentu ada pada golongan masyarakat tertentu.
1. Kepada pembaca, perorangan atau kelompok disajikan atau diminta pembaca karya sastra, sejumlah pertanyaan dalam teks atau angket yang berisi tentang permintaan, tanggapan, kesan, penerimaan
terhadap karya yang dibaca tersebut.untuk diisi jawaban-jawaban itu nanti ditabulasi dan dianalisis.
2. Kepada pembaca perorangan atau kelompok, diminta pembaca karya sastra, kemudian ia diminta untuk menginterpretasikan karya sastra tersebut. Interpretasi-interpretasi yang dibuat tersebut dianalisis secara kualitatif untuk meliha bagaimana penerimaan atau tanggapan terhadap karya sastra.
3. Kepada masyarakat tertentu diberikan angket untuk melihat prestasi mereka terhadap karya sastra, misalnya melihat prestasi sekelompok kritikus terhadap kontenporer persepsi masyarakat tertentu terhadap karya sastra daerahnya sendiri.
4). Prinsip-prinsip Dasar Pendekatan Pragmatik
Landasan pendekatan pragmatik adalah bertolak dari teori resepsi sastra, maka landasan dasarnyapun dalam mengkaji karya sama dengan tempat ia berpijak tersebut. Sebagai suatu pendekatan dalam memahami karya sastra, pragmatisme mempunyai prinsip sebagai berikut.
1. Otonomi karya sastra dianggap tidak relevan dalam kajian karya sastra, karena terlalu menganggap karya sastra sebagai struktur yang otonom. Padahal karya sastra tersebut tidak mempunyai kewujudannya sendiri sampai dibaca. Karena itu untuk dapat memahami sebuah karya sastra, pendekatan pragmatik tidak terlalu terikat pada struktur sastra semata, melainkan juga kepada faktor yang ada pada diri pembaca secara
kontekstual. Oleh karena itu, bentuk telaahnya kompleks daripada pendekatan struktural yang hanya tertuju pada bangun struktur saja.
2. Pendekatan pragmatik memkitang karya sastra sebagai artefak, pem-bacalah yang menghidupkannya melalui proses konk-retisasi. Karya sastra hanya menyediakan tkita atau kode makna, sedangkan makna itu sendiri diberikan oleh pembaca. Karya sastra tidak mengikat pembaca, tetapi menyediakan tempat yang kosong untuk diisi oleh pembaca. Maksudnya adalah bahwa teks sastra seperti puisi tidak pernah mempunyai makna yang terumus dengan sendirinya, sehingga diperlukan tin-dakan pembaca untuk merumuskannya.
3. Pembaca bukanlah pribadi yang tetap dan sama, melainkan sela-lu berubah dan berbeda. Oleh karena pembaca dalam melakukan proses pemahaman dipengaruhi oleh horison penerimaannya, maka subjektivitas pembaca mungkin berbeda antara satu dengan lainnya. Itulah sebabnya teknik telaahnya pragmatis dan dialektik.
4. Teks sastra selalu menyajikan ketidakpastiaan makna, sehingga memungkinkan pembaca untuk memaknai dan memahaminya secara terbuka lebar (Teeuw 1984; Junus 1985; Salden 1986; dan Jefferson & Robey 1988). Ketidakpastiaan iitulah mengapa pangkal tolak telaah pendekatan pragmatik ini dalam mengapresiasi karya sastra pada persepsi pembaca.
5). Karakteristik Pendekatan Pragmatik dalam Menelaah Karya Sastra
Bertolak dari hakikat dan prinsip dasar pendekatan pragmatik di atas, dapat dirumuskan bahwa pendekatan pragmatik dalam menelaah karya sastra adalah sebagai berikut.
1. Asumsi dasar pendekatan pragmatik memkitang bahwa karya sastra sesuatu yang bersifat artefak. Ia merupakan suatu benda yang belum mempunyai jiwa, dan baru mempunyai jiwa bila dinikmati atau dipahami.
2. Bentuk telaah kompleks, karena dalam menentukan makna atau unsur intrinsik, melainkan juga unsur ekstrinsik seperti pengarang, pembaca dan genetik karya sastra.
3. Dalam menelaah, unsur yang menjadi objek telaah mencakup seluruh unsur, baik fisik maupun unsur batin dan unsur-unsur lain yang dapat dijadikan acuan untuk mengkongkretisasikan makna yang abstrak.
4. Proses telaah dimulai dari resepsi personal pembaca keseluruhan bagian dan mencari hubungan struktur bagian kemudian menempatkan struktur keseluruhan menjadi struktur bagian dalam struktur yang lebih besar untuk dapat dikonkretisasikan melalui proses redeskripsi.
5. Teknik telaah pragmatis dan dialektik, yaitu dengan melibatkan pengalaman pembaca, pengarang, di samping unsur intrinsik yang menjadi acuan telaah.
6. Dasar pertimbangan dalam penentuan makna adalah perpaduan unsur intrinsik dengan unsur ekstrinsik serta faktor genetik dan pengalaman yang dipunyai pembaca.
7. Pangkal tolak telaah dari resepsi pembaca terhadap unsur bangun karya sastra.
8. Esensi karya sastra adalah makna setiap unsur, hubungan antara unsur dan keterpaduannya dihubungkan dengan konteks kesemestaan dan sistem kognisi pembaca.
9. Unsur pengarang dan pembaca dipertimbangakan dalam menelaah sebagai bagian dari genetik untuk kesempurnaan makna.
C. PENUTUP
Setiap peneliti sastra dituntut cermat memilih dan menentukan pendekatan penelitian. Penentuan pendekatan berpengaruh pada teori serta penerapan penelitian. Seperti halnya teori yang digunakan untuk membedah karya sastra yang dinamis dari waktu ke waktu, pendekatan penelitian (sastra) pun berkembang cukup dinamis. Artinya, tidak ada kebakuan yang memonumenkan sebuah pendekatan. Misalnya, pada waktu tertentu pendekatan A sering digunakan dalam penelitian sastra karena beriring dengan teori A pula. Pendekatan psikologis tentu akan diiringi dengan teori psikologi (psikologi sastra) tertentu yang diterapkan pada karya sastra. Demikian juga, misalnya, pendekatan sosiologis akan dibarengi dengan kehadiran teori-teori terkait, yakni teori sosiologi sastra
Daftar Pustaka
http://eprints.ums.ac.id/44045/2/BAB%20I.pdf
https://lotusfeet16.wordpress.com/2015/06/18/analisis-sastra-dengan-pendekatan-pragmatik/
http://okyhiory.blogspot.com/2012/04/kritik-sastra-kritik-sastra-
Komentar
Posting Komentar