Sastra dan Pendidikan Sastra

Laporan Bacaan 15 oleh:

Berlian Putri Arifin  21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd


SASTRA DAN PENDIDIKAN SASTRA


A. PENDAHULUAN

Mengajar merupakan salah satu tugas utama seorang guru untuk melaksanakan tugastersebut, ia memerlukan pedoman yang dijadikan pegangan agar apa yang dilakukan sesuaidengan kebijakan pemerintah, dalam hal ini kebijakan departemen pendidikan dankebudayaan. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan kegiatan di dalam proses belajarmengajar, pegangan guru yang pertama adalah kurikulum.Seperti diketahui bahwa kurikulum disusun berdasarkan sesuatu pendekatan yangdilandasi pandangan atau sastra tertentu. Apabila pandangan berubah, pendekatan berubah,maka kurikulum pun akan berubah dan ini berarti pedoman proses pembelajaran juga berubah. Perubahan kurikulum dilakukan untuk menyesuaikan program pendidikan dengankebutuhan masyarakat atau pembangunan, serta meningkatkan mutu pendidikan. Dalam beberapa dasa-warsa ini, telah terjadi beberapa kali perubahan pendekatan didalam dunia pendidikan, termasuk didalam dunia pembelajaran bahasa. Salah satu perkembangan yangterjadi dalam pembelajaran bahasa ialah munculnya pendekatan yang dilandasi oleh sastra pendidkan bahasa terpadu.
 
Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan, sebuah kreasi bukan semata-mata sebuahimitasi (dalam Luxemburg, 1989: 5). Karya sastra sebagai bentuk dan hasil sebuah pekerjaankreatif, pada hakikatnya adalah suatu media yang mendayagunakan bahasa untukmengungkapkan tentang kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sebuah karya sastra, padaumumnya, berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan manusia. Kemunculansastra lahir dilatar belakangi adanya dorongan dasar manusia untuk mengungkapkaneksistensi dirinya. (dalam
 Sarjidu, 2004: 2).
 
Pendidikan sastra dan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting didalam dunia pendidikan. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Apresiasi sastra akan berjalan lancar jika berbahasseorang anak sudak baik. Dalam apresiasi sastra manfaat yang sangat dirasakan adalahadanya pengembangan jiwa, dimana kita dapat mengeksplore seluruh potensi yang ada dalamdiri kita terutama hal yang ada dalam apresiasi sastra yaitu seperti puisi, prosa, dan drama


B. PEMBAHASAN

a. Pendidikan Sastra

Pendidikan sastra di Indonesia sangat tertinggal dibandingkan dengan pendidikan sastra di belahan dunia Barat atau Asia sendiri. Hal ini dikarenakan para siswa SMA di Indonesia sangat kurang dalam membaca karya-karya sastra dan juga kegiatan menulis atau mengarang. Di Jerman, pada pendidikan tingkat SMA, para siswa telah membaca sekurang-kurangnya 15 judul buku sastra, di New York membaca 32 judul buku sastra, di Rusia 12 judul buku sastra, di Singapura dan Malaysia masing-masing 6 judul, sementara di Indonesia tidak ada judul.
Pengarang sastra di sekolah-sekolah umum di Indonesia sangat tertinggal dalam kegiatan apresiasi siswa untuk gemar membaca karya-karya sastra Indonesia sendiri, dan juga lemahnya kemampuan pengungkapan jiwa lewat bahasa tulisan. Kita tidak mengetahui sama sekali posisi pengarang sastra diantara pengarang-pengarang lainnya. Mungkin banyak orang yang bertanya, apakah yang menyebabkan kegagalan pendidikan di bidang sastra di Indonesia ? Karena di negara Indonesia kurangnya anak sekolah membaca buku sastra atau karya-karya dan juga kurangynya kegiatan menulis atau mengarang.
Relosofi pendidikan kita sekarang ini, seolah-olah ingin memberikan sebanyak mungkin terhadap materi kepada siswa-siswi. Para siswa sekolah dijejali dengan pelajaran-pelajaran yang bagi siswa sendiri membingunkan dalam makna dan fungsinya dalam kehidupan ini. Apa sih gunanya Matematika? Apa sih gunanya kimia? Di tengah kerumitan itu, sistem pengajaran kita ini solusinya terletak pada pribadi gurunya. Kita pun tidak dapat mengharapkan sukses nya pengajaran sastra hanya lewat pribadi guru-gurunya. Kondisi guru itu sendiri telah cukup rumit dalam menghadapi banyaknya jumlah murid dan banyaknya koreksi yang harus dikerjakan. Walaupun begitu, yang penting untuk memperingatkan kita bahwa sasaran pengajaran sastra si Negara manapun adalah apresiasi sastra, yaitu para siswa diajak memasuki pengalaman karya sastra bukan sekedar pengetahuan tentang sastra. Apresiasi ini akan bertambah mendalam dan pekat apabila siswa juga terlihat dalam penciptaan yakni mengarang.

b. Kendala dalam Pengembangan Karya Sastra   

Dalam setiap kegiatan positif terdapat banyak sekali kendala-kendala yang menghambat. Dalam hal ini kendala tersebut berasal dari dalam dan dari luar.
  1. Kendala dari dalam yaitu kendala yang disebabkan oleh hambatan dalam negeri. Seperti pro-kontra yang bergejolak tentang masalah pers. Kebebasan pers yang merupakan hak asasi harus dipersoalkan oleh pihak pencari berita dan para target berita. Para target berita berusaha menutup-nutupi aib dalam dirinya.
  2. Masalah dari luar yaitu masalah yang disebabkan oleh budaya Barat yang tak sesuai dengan budaya kita. Banyak budaya Barat yang diadopsi oleh orang-orang Indonesia yang sebenarnya sangat bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia. Begitupula dengan kemurnian sastra Indonesia. Sekarang bahasa banyak dicampur aduk, kadangkala ada orang yang berbicara dengan mencampur adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Sehingga kemurnian bahasa Indonesia tidak lagi terlalu diperhatikan.

c. Strategi Pembelajaran

Menurut Wena (2011:5), strategi pembelajaran adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda.

Strategi pembelajaran PAILKEM merupakan salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. PAILKEM merupakan sinonim dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, dan Menarik (Mohamad, 2011:10-16).

1. Pembelajaran yang Aktif – Aktif dalam strategi ini adalah memosisikan guru sebagai orang yang menciptakan suasana belajar yang kondusif atau sebagai fasilitator dalam belajar, sementara siswa sebagai peserta belajar yang harus aktif.
2. Pembelajaran yang Inovatif – Inovatif disini, guru tidak saja tergantung dari materi pembelajaran yang ada pada buku, tetapi dapat mengimplementasikan hal-hal baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan dengan masalah yang sedang dipelajari siswa.
3. Pembelajaran yang Menggunakan Lingkungan – Konsep pembelajaran ini berangkat dari belajar kontekstual dengan lebih mengedepankan bahwa hal yang perlu dipelajari terlebih dahulu oleh siswa adalah apa yang ada pada lingkungannya.
4. yang Kreatif – Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
5. Pembelajaran yang Efektif – Segala pertimbangan dalam strategi ini menyangkut tujuan yang disusun berdasarkan kemampuan siswa, pemilihan materi yang benar-benar menunjang tujuan, penetapan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa, penggunaan media yang pas serta evaluasi yang tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan, pada akhirnya tetap terpulang pada bagaimana peran seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran.
6. Pembelajaran yang Menarik – Inti dari strategi pembelajaran yang menarik terletak pada bagaimana memberikan pelayanan kepada siswa sebab posisi siswa jika diibaratkan dalam sebuah perusahaan, maka siswa merupakan pelanggan yang perlu dilayani dengan baik.

d. Penyampaian Materi

Pengajaran Puisi

Guru hendaknya memilih bahan berdasarkan tingkat kemampuan siswa-siswinya, dan hendaknya selalu ingat bahwa tidak ada unsur-unsur magis yang melekat pada nama-nama penyair terkenal atau mempunyai reputasi yang mantap.

Dalam mengajak para siswa untuk memahami dan menikmati puisi hendaknya guru tidak terlalu tergesa-gesa membebani para siswa dengan istilah-istilah seperti gaya bahasa metafora, hiperbola, personifikasi, dan sebagainya.

Pengajaran Prosa

Para guru sastra sebenarnya sangat beruntung karena mutu dan jenis prosa cerita ini cukup banyak jumlahnya. Yang berbentuk novel misalnya, guru dengan mudah dapat menemukan novel yang cocok untuk pembaca awam sesuai dengan tingkat kebahasaan yang dikuasainya. Novel-novel tersebut mengandung banyak pengalaman yang bernilai pendidikan yang positif. Jenis karya sastra yang berbentuk novel ini dapat membina minat membaca siswa.

Langkah penting untuk menanamkan kebiasaan pada seseorang adalah dengan memberi contoh atau tindakan nyata. Guru diharapkan dapat menumbuhkan minat dasar bacaan, baik masalah pribadi, sosial, maupun umum bukan hanya mengutip. Siswa yang telah siap dapat diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan pendapat atau membacakan hasil karyanya. Sambutan dan pujian dari rekan-rekannya sekelas akan lebih baik daripada hanya sekedar pujian dari gurunya.

Pengajaran Drama

Drama adalah bentuk sastra yang dapat merangsang gairah dan mengasyikkan para pemain dan penonton sehingga sangat digemari masyarakat. Tujuan utama dalam mempelajari drama adalah untuk memahami bagaimana suatu tokoh harus diperankan sebaik-baiknya dalam suatu pementasan. Untuk mempelajari pementasan ini memang tidak selalu mudah, terutama bagi siswa yang sama sekali belum mengenal pelik-pelik keadaan suatu pentas drama. Untuk itu, seorang guru (pelatih) drama bertanggung jawab untuk memperkenalkan siswa-siswanya pada kondisi pementasan drama. Dalam beberapa hal, lingkungan siswa sehari-hari (misalnya: televisi, sandiwara, film, dan sebagainya) dapat dimanfaatkan untuk membantu menyampaikan pengalaman pementasan yang nyata.


C. PENUTUP

Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Guru sebagai fasilitator yang merangkum kedua pelajaran tersebut hendaknya dapat menggunakan pendekatan, metode, strategi, dan model yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bahasan kali ini menggunakan pendekatan inquiry dan recovery, dengan metode imersi dan teknik induksi serta didukung oleh strategi PAILKEM. Pembelajaran sastra yang terdiri atas pengajaran puisi, prosa, dan drama dapat lebih dikembangkan lagi dengan langkah-langkah pengorganisasian materi sehingga suasana belajar dapat digambarkan dengan jelas.



Daftar Pustaka

https://www.scribd.com/document/423375293/Makalah-Pend-Bahasa-Dan-Sastra

Avvank, A. Dkk.  (2003). Sastra Indonesia. Medan: Tritunggal

Sumanto, Drs. (1998). Pembelajaran Sastra. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

https://www.infodiknas.com/pendekatan-metode-strategi-model-pembelajaran-sastra.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Analisis Sastra Objektif dan Mimetik

Pendekatan Analisis Sastra Ekspresif dan Pragmatik