BAHASA SASTRA DAN TEKS SASTRA
Laporan Bacaan 3 oleh:
Berlian Putri Arifin 21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd
BAHASA SASTRA DAN TEKS SASTRA
A.PENDAHULUAN
Bahasa dan sastra memiliki hubungan yang erat. Kekuatan sastra
berada pada kekuatan dan cara pengarang menggunakan bahasa. Melalui
bahasa, seorang pengarang akan mampu merangkai kata yang
mengandung gagasan-gagasan untuk disampaikan kepada pembaca.
Adapun bahasa dalam sastra memiliki keunikan tersendiri yang berbeda
dengan bahasa sehari-hari sehingga mampu menarik minat dan
ketertarikan orang lain untuk menikmati sastra. Karya sastra merupakan
karya imajinatif bermediumkan bahasa, dalam hal ini bahasa tersebut
dinamakan bahasa sastra. Al-Ma’ruf (2009:3) mengemukakan bahasa
sastra sebagai media ekspresi sastrawan dipergunakan untuk memperoleh
nilai seni karya sastra, dalam hal ini berhubungan dengan style ‘gaya
bahasa’ sebagai sarana sastra.
Salah satu karakteristik bahasa sastra adalah tujuan untuk mencapai
efek keindahan. Namun, bahasa seperti apa yang memenuhi keindahan itu
tidak jarang masih menimbulkan perbedaan. Lingkup ini membicarakan
tentang kesepakatan tidak harus terpenuhi karena yang lebih diutamakan
adalah kesuntukan, intensitas, kesungguhan untuk memperlakukan sebuah
karya sastra. Bagaimana fungsi puitis termanifestasikan dalam suatu puisi?
Jakobson (Nurgiyantoro, 2014:110) mengemukakan karakteristik bahasa
literer banyak diwujudkan dalam penggunaan bentuk paralelisme dan
repetisi dan juga menegaskan penggunaan kaidah pararelisme untuk
mengekspresikan pengalaman estetik.
B.PEMBAHASAN
- Kaidah Sastra
Waluyo, (1994: 56-58) mengatakan bahwa kaidah sastra atau daya tarik sastra terdapat pada unsur-unsur karya sastra tersebut. Pada karya cerita fiksi, daya tariknya terletak pada unsur ceritanya yakni cerita atau kisah dari tokoh-tokoh yang diceritakan sepanjang cerita yang dimaksud. Selain itu, faktor bahasa juga memegang peranan penting dalam menciptakan daya pikat. Kemudian gayanya dan hal-hal yang khas yang dapat menyebabkan karya itu memikat pembaca. Khusus pada cerita fiksi, ada empat hal lagi yang membantu menciptakan daya tarik suatu cerita rekaan, yaitu: (1) kreativitas; (2) tegangan (suspense); (3) konflik; dan (4) jarak estetika.
1.Bahan baku teks sastra.
Seorang pengarang atau sastrawan dalam pembuatan karya sastra Juga perlu mengolah bahan baku untuk menghasilkan karya sastra. bahan baku karya sastra adalah bahasa. Sastrawan mengolah bahasa agar menjadi indah dan bernilai seni. Sebab,keindahan itulah yang menyebabkan karya sastra disebut karya seni, yaitu seni sastra.Cara sastrawan menggunakan bahasa untuk menulis karya sastra berbeda dengan cara penulis lain untuk menghasilkan karya ilmiah. Penulis karya ilmiah bertujuan menyampaikan gagasan kepada pembaca. Karena itu, kata-kata yang dipilih dalam rakitan kalimatnya dibuat sedemikian rupa agar pembaca karya ilmiah dapat cepat menangkap dan memahami gagasan penulis. Lain halnya dengan sastrawan. Sastrawan menulis bukan hanya untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca, melainkan juga menyampaikan perasaannya.
2. Perkembangan defenisi teks sastra.
Karya sastra lahir dari sebuah renungan seorang sastrawan yang ingin
mengungkapkan apa yang dipikirnya tentang pandangan dunia ideal. Karya
sastra akan berisi pandangan seorang pengarang yang diilhami oleh imajinasi
dan realitas budaya pengarang. Posisi karya sastra sebagai dokumen juga
diungkapkan oleh Junus (dalam Siswanto, 2008: 192) yang menyatakan
bahwa karya sastra dilihat sebagai dokumen sosial budaya hal ini didasarkan
pandangan bahwa karya sastra mencatat kenyataan sosial budaya suatu
masyarakat pada suatu masa tertentu penciptaan karya sastra tidak dapat
dipisahkan dengan proses imajinasi pengarang dalam melakukan proses
3
kreatifnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo (2002: 61) yang
menyatakan bahwa karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai
hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial yang
ada di sekitarnya. Akan tetapi karya sastra tidak lahir dari kekosongan
budaya. Pradopo juga mengungkapkan bahwa sastra adalah bagian dari
budaya itu sendiri. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Endraswara
(2003: 78) yang menyatakan bahwa sastra adalah ekspresi kehidupan manusia
yang tak lepas dari akar masyarakatnya. Seperti yang sudah menjadi
kesepakatan banyak orang bahwa karya sastra bukanlah karya rekaan semata.
Ratna (2009: 116) juga menyatakan bahwa tidak ada karya sastra yang
diciptakan dengan tidak sengaja.
Sastra sebagai hasil renungan seorang pengarang menyebabkan karya
sastra tidak bisa dilepaskan dari latar belakang terciptanya karya sastra
tersebut. kesadaran bahwa karya sastra tidak bisa dipisahkan dari latar
belakang sosial budayanya membuat penelitian sastra mengalami
perkembangan pesat. Penelitian sastra dengan menggunakan teori struktural
semata sudah mulai ditinggalkan. Hal ini karena pendekatan strukturalisme
murni memiliki banyak kekurangan. Lubang yang diciptakan kaum-kaum
strukturalis diyakini benar. Kelamahan tersebut kemudian mendorong
beberapa ilmuan untuk menciptakan sebuah metode penelitian baru tentang
karya sastra yang tidak mengingkari latar belakang sosial budaya terciptanya
karya sastra tersebut. salah satu jenis metode penelitian yang muncul adalah
sosiologi sastra. Dikarenakan sifat sastra yang sangat subjektif maka
penelitian sastra akan memegang peranan yang sangat penting sebagaimana
yang diungkapkan oleh Endraswara yang menyatakan karena karya sastra
sarat akan imajinasi itulah sebabnya penelitian sastra memiliki tugas untuk
mengungkap kekaburan itu menjadi jelas. Peneliti sastra bertugas untuk
mengungkap elemen-elemen dasar pembentuk sastra dan menafsirkan sesuai
paradigma dan atau teori yang digunakan (Endraswara, 2003: 7). Penelitian
sastra akan membantu memahami karya sastra sedalam-dalamnya Pradopo
(dalam Endraswara, 2003: 10). Dari pernyataan tersebut penelitian sastra
4
memegang peranan yang sangat penting seperti yang dikatakan Endraswara
penelitian sastra akan berusaha menerangjelaskan kepada siapa saja tentang
maksud yang ada di balik karya sastra. Pendek kata penelitian sastra akan
menjadi jembatan antara penulis, teks, dan pembaca (Endraswara, 2003: 11).
3. Bahasa seharihari vs Bahasa sastra.
Bahasa sastra menggunakan bahasa kedua, sedangkan bahasa ke seharian menggunakan bahasa pertama. Karena bahasa sastra adalah bahasa yang digunkan oleh para sastrawan untuk membuat beberapa buku,menggunakan bahasa baku,dan pemilihan beberapa kata dan kalimat. Sedangkan bahasa keseharian menggunakan bahasa yang tidak menggunakan bahasa baku atau bahasa percakapan yang sering dilakukan oleh orang lain atau masyarakat.
4. Bahasa sastra vs Bahasa ilmiah.
Karya sastra dapat dinikmati sampai kapanpun meskipun berbeda zaman,karena terkandung nilai-nilai yang masih relevan untuk dipelajari atau dipraktikkan.Sedangkan nonsastra (ilmiah) akan berkembang terus menerus dari waktu ke waktu.Bahasa sastra adalah bahasa yang bersifat khayal/imajinatif atau subjektif karena sastra dciptakan oleh pengarang, dan pengarang tersebut memiliki hak penuh dalam menciptakan suatu karya sastra. Sedangkan bahasa ilmiah (nonsastra yang lebih bersifat nyata atau objektif).Karena hasil karya imliah dapat diperoleh berdasarkan fakta-fakta yang sudah ada dan disepakati kebenarannya secara umum.
5. Karakteristik bahan baku teks sastra.
Karakteristik bahasa memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan konteks penggunaannya. Purwadarminto membedakan bahasa menjadi beberapa macam yaitu,ragam bahasa umum dan ragam bahasa khusus. Ragam bahasa umum adalah ragam bahasa yang biasa digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari oleh manusia dalam suatu masyarakat. Ragam bahasa khusus dikelompokan menjadi beberapa macam, yaitu ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa jabatan, ragam bahasa ilmiah, dan ragam bahasa sastra.Semuanya memiliki karakteristik atau ciri-ciri yang berbeda-beda. Misalnya, ragam bahasa jurnalistik memiliki ciri-ciri singkat,padat,sederhana,lugas,jelas,jernih,menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata (diksi) yang tepat, menggunakan kalimat aktif, menghindari kata atau istilah teknis, dan tunduk pada etika dan kaidah yang berlaku di masyarakat.
- Teks dan Penggunaan Bahasa.
Gaya bahasa ialah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Gaya bahasa yang digunakan oleh penulis pada hakikatnya adalah cara menggunakan bahasa yang setepat-tepatnya untuk melukiskan perasaan dan pikiran penulis yang berbeda dari corak bahasa sehari-hari dan bersifat subyektif. Majas dibagi menjadi 4 kelompok yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa penegasan dan gaya bahasa pertentangan.
1. Hakikat teks sebagai ilmu teknologi.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam teknologi percetakan, semakin banyak informasi yang tersimpan di dalam buku. Pada semua jenjang pendidikan, kemampuan membaca menjadi skala prioritas yang harus dikuasai siswa. Dengan membaca, siswa akan memperoleh berbagai informasi yang belum pernah didapatkan. Semakin banyak membaca semakin banyak pula informasi yang diperoleh.
2. Ciri khas suatu teks.
- Melaporkan hasil percobaan.
- Percobaan ilmiah dilakukan guna menguji sesuatu.
- Teks laporan percobaan diawali dengan memaparkan tujuan percobaan.
- Memaparkan bahan dan alat yang diperlukan untuk melasanakan percobaan.
- Memaparkan prosedur pelaksanaan percobaan dan melakukan pengamatan.
- Memaparkan pencatatan hasil percobaan.
- Di akhir laporan dipaparkan simpulan hasil percobaan berdasarkan hasil analisis terhadap data hasil pengamatan.
- Harus mengandung fakta.
- Bersifat objektif.
- Harus ditulis sempurna dan lengkap.
- Tidak memasukkan hal-hal yang menyimpang, mengandung prasangka, atau pemihakan.
- Disajikan secara menarik, baik dalam hal tata bahasa yang jelas, isinya berbobot, dan susunan logis.
3. Jenis-jenis teks dalam kaidah teknologi.
Kalau kita lihat berdasarkan masa perkembangannya, teks yang pertama ada adalah teks lisan, teks lisan lahir dari cerita-cerita rakyat yang diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi melalui tradisi mendongeng.Teks lisan berkembang menjadi teks naskah tulisan tangan yang merupakan kelanjutan dari tradisi mendongeng, cerita-cerita rakyat yang pernah dituturkan disalin ke dalam sebuah tulisan dengan menggunakan alat dan bahan yang sangat sederhana dan serta menggunakan aksara dan bahasa daerahnya masing-masing. Teks naskah tulisan tangan ini masih tradisional, setelah ditemukannya mesin cetak dan kertas oleh bangsa Cina maka perkembangan teks pun menjadi lebih maju, pada masa ini orang tidak harus susah-susah menyalin sebuah teks,tetapi teks-teks sangat mudah diperbanyak dengan waktu yang tidak lama maka
lahirlah teks-teks cetakan.
4. Kaidah teks sastra dalam kaian teknologi.
Baried (1985:57), menyebutkan ada sepuluh prinsip Lichacev yang dapat dijadikan sebagai pegangan untuk penelitian tekstologi yang pernah diterapkan terhadap karya-karya monumental sastra lama Rusia. Kesepuluh prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tekstologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki sejarah teks suatu karya. Salah satu di antara penerapannya yang praktis adalah edisi ilmiah
teks yang bersangkutan;
2. Penelitian teks harus didahulukan dari penyuntingannya;
3. Edisi teks harus menggambarkan sejarahnya;
4. Tidak ada kenyataan tekstologi tanpa penjelasannya;
5. Secara metodis perubahan yang diadakan secara sadar dalam sebuah teks (perubahan ideology, artistic, psikologis, dan lain-lain) harus didahulukan daripada perubahan mekanis, misalnya kekeliruan tidak sadar oleh seorang penyalin;
6. Teks harus diteliti sebagai keseluruhan (prinsip kekompleksan pada penelitian teks);
7. Bahan-bahan yang mengiringi sebuah teks (dalam naskah) harus diikutsertakan dalam penelitian;
8. Perlu diteliti pemantulan sejarah teks sebuah karya dalam teks-teks dan monumen sastra lain;
9. Pekerjaan seorang penyalin dan kegiatan skriptoria-skriptoria (sanggar penulisan/penyalinan: biara, madrasah) tertentu harus diteliti secara menyeluruh;
10. Rekonstruksi teks tidak dapat menggantikan teks yang diturunkan dalam naskah-naskah.
C. PENUTUP
Karya sastra terjemahan melalui bahasa Indonesia mempertemukan kita dengan berbagai suara dari berbagai dunia. Ia dapat menghubungkan kita dengan kisah dan pengalaman orang-orang yang pada awalnya nampak sangat asing. Ia mampu meluaskan cakrawala imajinasi kita dan meninggikan kemampuan kita untuk memahami satu sama lain.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tidak dapat dilepaskan dari masyarakat Indonesia yang pada umumnya adalah masyarakat yang bilingualisme. Mereka di samping menguasai bahasa Indonesia, juga menguasai bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Dengan demikian, situasi kebahasaan di Indonesia sangat kompleks karena bahasa Indonesia dan 700-an bahasa daerah digunakan oleh masyarakat Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan yang dijunjung oleh segenap bangsa Indonesia. Hal ini tercermin pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi Kami putra dan putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa negara yaitu selain sebagai bahasa persatuan (bahasa nasional), bahasa Indonesia juga sebagai satu-satunya bahasa resmi secara nasional di Indonesia.
Sastra merupakan satu bentuk karya yang menggunakan bahasa sebagai media penyampaiannya. Melalui bahasa Indonesia inilah merupakan media memahami karya sastra. Bahasa digunakan oleh penulis sebagai media untuk menyampaikan ide atau gagasannya kepada masyarakat luas. Dengan demikian, bahasa merupakan unsur penting bagi sastra. oleh karena sastra merupakan unsur yang amat penting yang mampu memberikan wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, perspektif, harmoni, irama dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan peradaban. Jika sastra tercerabut dari akar kehidupan manusia, maka manusia tak lebih dari sekedar hewan berakal. Sastra dan manusia serta kehidupannya adalah sebuah persoalan yang penting dan menarik untuk dibahas secara komprehensif.
Referensi
https://pps.unj.ac.id/publikasi/dosen/ninuk.lustyantie/07.pdf
http://siti-mahsunah-fib12.web.unair.ac.id/artikel_detail-85780-Umum-penggunaan%20bahasa%20dalam%20sastra.html
https://www.bola.com/ragam/read/4615694/pengertian-teks-laporan-ciri-ciri-tujuan-dan-langkah-membuatnya-yang-perlu-dipahami
http://eprints.ums.ac.id/17267/4/03._BAB_I.pdf
http://eprints.ums.ac.id/46649/3/BAB%20I.pdf
https://prezi.com/cqcx4fshklya/kaidah-sastra-estetika-kesatuan-dan-keragaman/
http://eprints.ums.ac.id/44850/3/BAB%20I.pdf
Black and white
BalasHapus