Gendre Sastra Modern
Laporan Bacaan 5 oleh:
Berlian Putri Arifin 21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd
GENDRE SASTRA MODERN
A. PENDAHULUAN
Genre sastra atau jenis sastra dapat dikelompokkan ke dalam dua
kelompok, yaitu sastra imajinatif dan nonimajinatif. Dalam praktiknya sastra
nonimajinatif terdiri atas karya-karya yang berbentuk esai, kritik, biografi,
otobiografi, dan sejarah. Karya sastra imajinatif itu sendiri ialah karya prosa
fiksi termasuk di dalamnya cerpen, novelet, novel atau roman; puisi yang di
antaranya puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik; dan drama bentuknya
berupa drama komedi, drama tragedi, melodrama, dan drama tragikomedi
(Najid, 2003:12).
Dalam kesusastraan dikenal bermacam-macam jenis genre sastra. Menurut
Warren dan Wellek (1995: 298) genre sastra bukanlah nama, karena konvensi sastra
yang berlaku pada suatu karya sastra membentuk ciri karya tersebut. Menurutnya,
teori genre adalah suatu prinsip keteraturan. Sastra dan sejarah sastra diklasifikasikan
tidak berdasarkan waktu dan tempat, tetapi berdasarkan tipe struktur atau susunan
sastra tertentu.
Selain genre sastra yang telah disebutkan diatas dalam sastra juga terdapat
beberapa aliran sastra yang berkaitan erat dengan sejarah kesusastraan. Aliranaliran dalam sastra ini sebenarnya telah lama berkembang di Eropa. Namun
hakikatnya aliran-aliran yang ada itu berpangkal dari realisme dan
ekspresionisme serta aliran yang mendasarkan pikiran dan pandangan hidup,
seperti materialisme dan idealisme (Sugiarti, 2004:1). Salah satu aliran yang
cenderung pada realisme adalah romantisme yang akan kita bahas lebih lanjut
pada penelitian ini.
Romantisme adalah salah satu aliran sastra yang menekankan emosi yang
kuat sebagai sumber dari pengalaman estetika, memberikan tekanan baru
terhadap emosi-emosi seperti rasa takut, ngeri, dan takjub yang dialami ketika
seseorang menghadapi yang sublim dari alam (www.nyanyian
bahasa.blogspot.com). Selain itu romantisme juga mengesahkan imajinasi
individu sebagai otoritas kritis yang memungkinkan kebebasan dari
pemahaman klasik tentang bentuk dalam seni.
B. PEMBAHASAN.
1). Gendre sastra modern
Genre dapat dipahami sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang memiliki seperangkat karakteristik umum, atau kategori pengelompokan karya sastra yang biasanya berdasarkan style, bentuk, atau isi. Istilah genre perlu diterapkan untuk pembagian jenis secara historis menjadi tragedy dan komedi. Plato dan aristoteles telah membagi ketiga kategori modern menurut “cara menirukan” (atau mewujudkan): puisi lirik adalah pesona penyair seendiri, dalam puisi epik (atau novel) pengarang berbicara sebagai dirinya sendiri, sebagai narator, dan membuat para tokohnya berbicara dalam wacana langsung (naratif campuran), sedangkan dalam drama, pengarang menghilang dibalik tokoh-tokohnya. Genre harus dilihat sebagai pengelompokan karya sastra, yang secara teoretis didasarkan pada bentuk luar (mantra atau struktur terrtentu) dan pada bentuk dalam (sikap, nada, tujuan, dan yang lebih kasar, isi, dan khayalak pembaca). Kita mungkin cenderung untuk tidak melanjutkan sejarah genre setelah abad ke-18, karena setelah abad ke-18, orang tidak mengharapkan lagi bahwa puisi di buat dengan struktur pola yang berulang
2). Karakteristik sastra modern
- Bentuk karya sastra baru berupa puisi bebas dan kontemporer, seperti cerpen, novel, dram Indonesia.
- Bahasa yang digunakan menggunakan bahasa keseharian dan sering dimasuki bahasa asing kreatif.
- Tema yang diangkat seputar kemanusiaan, kemasyarakatan, kehidupan modern, pergaulan remaja,dll
- latar belakang penciptaan terpengaruh kesusastraan barat, Budaya industri modern, hak cipta pengarang individu.
- Perkembangannya bersifat dinamis, melalui media cetak dan audiovisual.
3). Pembagian gendre sastra modern berdasarkan berbagai pendapat pakar sastra
Teeuw (1984: 110-113) juga mencatat pendapat beberapa pakar yang mempermasalahkan dinamika jenis sastra, sebagai berikut
1.Menurut Culler, pada asasnya fungsi konvensi jenis sastra ialah mengadakan perjanjian antara penulis dan pembaca, agar terpenuhi harapan tertentu yang relevan, dan dengan demikian dimungkinkan sekaligus penyesuaian dengan dan penyimpangan dari ragam keterpahaman yang telah diterima.
2.Menurut Todorov, batasan jenis sastra oleh karena itu merupakan suatu kian kemari yang terus menerus antara deskripsi fakta-fakta dan abstraksi teori. setiap karya agung, per definisi,menciptakan jenis sastranya sendiri. Setiap karya agung menetapkan terwujudnya dua jenis, kenyataan dan norma, norma jenis yang dilampauinya yang menguasai sastra sebelumnya, dan norma jenis yang diciptakannya.
3.Menurut Claudio Guillen, jenis sastra adalah undangan atau tantangan untuk melahirkan wujud.Konsep jenis memandang ke depan dan ke belakang sekaligus. Ke belakang ke karya sastra yang sudah ada dan ke depan ke calon penulis.
4.Demikian juga menurut Hans Robert Jausz, bahwa jenis sastra per definisi tidak bisa hidup untukselamanya, karya agung justru melampaui batas konvensi yang berlaku dan membuka kemungkinan baru untuk perkembangan jenis sastra. Jenis sastra bukanlah sistem yang beku,kaku, tetapi berubah terus, luwes dan lincah. Peneliti sastra harus mengikuti perkembangan itu dalam penelitiannya. Teeuw menambahkan bahwa dalam penelitian sistem jenis sastra, tidak ada garis pemisah yang jelas antara pendekatan diakronik dan sinkronik: karya sastra selalu berada dalam ketegangan dengan karya-karya yang diciptakan sebelumnya.
Asia Padmopuspito (1991: 2) mengutip beberapa definisi genre sastra dari beberapa pakar sastra, antara lain sebagai berikut :
1.Menurut Shipley, genre adalah jenis atau kelas yang di dalamnya termasuk karya sastra. Hasry Shaw menyatakan bahwa genre adalah kategori atau kelas usaha seni yang memiliki bentuk, teknik atau isi khusus. Di antara genre dalam sastra termasuk novel, cerita pendek, esai, epik,dsb.
2.Menurut Hirsch, cara terbaik untuk mendefinisikan genre ialah dengan melukiskan unsur-unsur di dalam kelompok teks sempit yang mempunyai hubungan sejarah secara langsung.
4). Contoh-contoh teks sastra modern.
1) Puisi adalah, karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu
yang kosong tanpa makna.
2) Drama adalah, karangan yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia dalam bertingkah
laku yang dipentaskan dalam beberapa babak. Seni drama sering disebut seni teater.
3) Cerpen adalah, karangan pendek berbentuk prosa. Dalam cerpen dikisahkan sepenggal
kehidupan tokoh, baik yang mengharukan, menyedihkan. menggembirakan, atau berupa
pertikaian dan mengandung kesan yang tidak mudah dilupakan.
5) Situasi bahasa genre sastra modern
Dalam masyarakat modern sastra makin dilepaskan dari situasi komunikasi yang normal. Sastra menjadi urusan si pembaca secara sangat individual; buku adalah sesuatu yang dibaca, dinikmati, dinilai sendiri saja. Sastra adalah tulisan, ecriture, perkembangan sastra modern sangat dipengaruhi oleh perkembangan melek huruf. Obiechina, seorang ahli sastra Afrika Barat dalam analisa roman-roman Afrika Barat memberikan kupasan yang sangat baik tentang pengaruh melek huruf atas perkembangan novel sebagai jenis sastra. “The novel is meant to be read by the individual in quiet isolationand complex narrative is more easily sustained and followed by reading it than by hearing it” (Obiechina, 1975:3) “The literate tradition … is more elaborative, exploratory and experimental than the oral tradition and leads to greater diversity of beliefs, sentiments and attitudes” (idem :33) . kemungkinan dan keperluan untuk menyimpang dan mengejutkan dalam sastra tulisan besar. Dapat dikatakan bahwa secara umum yang menjadi kriteria nilai yang tertinggi dalam dunia modern adalah yang baru. Semua baik, asal baru (bandingkanlah dunia periklanan yang mengeksploitasi kebutuhan manusia modern akan yang baru).
Akibatnya dalam sastra modern kebebasan dan kebutuhan para seniman untuk merombak sistem sastra jauh lebih besar dan lebih radikal (yakni sampai akarnya) dari pada di jaman lampau. Sistem itu sendiri tidak jelas lagi, kabur dan kacau batasnya, demikian pula batas-batas jenis sastra. Hal itu jelas kelihatan di Indonesia; cerpen mini Arswendo Atmowiloto dan kawan-kawan, yang bukan cerpen lagi, sajak Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damono yang bukan sajak lagi, drama-drama yang sengaja dibebasskan dari “beban cerita”, dari rangka sastra (Ikranagara), roman yang bukan roman lagi, (Iwan Simatupang). Situasi ini menjadi lebih ruwet lagi oleh karena makin lama makin banyak pengarang yang menjadi ahli teori sasstra dan sebaliknya, pengarang sekarang secara insaf dan sadar merombak sistem, membebaskan diri dari ikatan konvensi, dari ikatan sistem bahasa dan sastra. Dimana-mana interaksi antara praktek sastra dan teori sastra makin erat dan kuat.
C. PENUTUP
Kesimpulan
Dalam sastra terdapat genre sastra, antara lain seperti puisi, drama, roman,prosa dan lain-lain. Prosa ada beberapa jenis salah satunya novel. Novel adalah suatucerita prosa fiktif panjang yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupannyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau ataukusut. Karya novel biasanya mengangkat berbagai fenomena yang terjadidimasyarakat. Karya-karya yang menarik itu dapat mempengaruhi jiwa para pembacasehingga dapat menyelami dan seolah-olah hadir dalam cerita tersebut. (Tarigan,1984:164).
Pembelajaran sastra sangatlah penting, karena di dalam pembelajaran sastra tersebut terdapat beberapa aspek humaniora yang dapat mengasah kepekaan sosial, ketajaman watak, serta dengan mempelajari sastra, seseorang dapat belajar bagaimana caranya mengharagai karya-karya orang lain, karena pada dasarnya sastra dapat membantu seseorang lebih memahami kehidupan dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Referensi:
https://www.google.com/search?q=makalah+genre+sastra+modern&oq=makalah+gendre+sastra+mo&aqs=chrome.1.69i57j33i10i22i29i30l3.9262j0j15&sourceid=chrome&ie=UTF-8
http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Periodisasi_Sastra
https://docplayer.info/69558833-Sastra-lama-dan-sastra-modern-oleh-valentina-galuh-x-921.html
Komentar
Posting Komentar