Genre Sastra Klasik

Laporan Bacaan 6 oleh:

Berlian Putri Arifin  21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd


GENRE SASTRA KLASIK



A. PENDAHULUAN
Masalah Karya sastra merupakan hasil cipta manusia yang lahir dari ekspresi jiwa seorang pengarang. Berdasarkan sejarahnya, sastra dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, kesusastraan klasik dan kesusastraan baru. Adapun perbedaan antara sastra klasik dan sastra baru adalah: (1) puisi pada sastra klasik berbentuk terikat dan kaku sedangkan pada sastra baru bersifat bebas, (2) prosa lama bersifat statis sedangkan prosa baru bersifat dinamis, (3) sastra klasik bersifat istana sentris sedangkan sastra baru bersifat sentris, (4) prosa lama hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo, atau dongeng. Pembaca dibawa ke alam khayal dan fantasi sedangkan prosa baru berbentuk roman, novel, kisah, drama, dan berlandaskan pada dunia nyata, (5) sastra klasik dipengaruhi oleh kesusastraan Hindu dan Arab sedangkan sastra baru dipengaruhi oleh kesusastraan Barat, (6) sastra klasik bersifat anonim sedangkan sastra baru diketahui nama pengarangnya. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) kelas X SMA untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, dinyatakan bahwa kemampuan mengidentifikasi unsur intrinsik terdapat pada KD 15.1 yaitu mengidentifikasi karakteristik unsur intrinsik sastra Melayu klasik. Karya sastra Melayu klasik dikenal dalam dua bentuk yaitu prosa dan puisi. Karya sastra berbentuk prosa seperti dongeng, fabel, legenda, mythe, sejarah, hikayat, cerita panji sedangkan bentuk puisi di antaranya pantun, gurindam, seloka, syair, dan talibun.


B. PEMBAHASAN
1). Genre Sastra Klasik Nusantara
Sastra Melayu klasik memeliki heterogenitas dalam sisi fungsional terhadap para pembaca. Dalam kesusastraan melayu klasik terjadi sebuah perkembangan sastra yang cukup pesat. Diantara beberapa karya sastra melayu klasik yang dapat digolongkan dalam lingkup faedah adalah dari beberapa genre sastra sebagai berikut : hikayat berbingkai, hikayat bahtiar, hikayat pelanduk jenaka, karya sastra tersebut bertujuan untuk membimbing tingkah laku orang melayu secara benar. Ada tiga aspek yang bisa dibedakan dari masing-masing karya sastra ditinjau dari aspek resepsinya terhadap pembaca.
 1. Aspek estetika atau keindahan
karya sastra bisa dikatakan memiliki aspek estetika jika sastra tersebut mampu membangkitkan keseimbangan perasaan dalam jiwa pembacanya, dengan jalan mempengaruhinya melalui keindahan yang inheren pada struktur verbal dan struktur mental karangan sastra, melalui keindahan bunyi dan isinya.
 2. Aspek faedah atau didaktis
karya sastra bisa dikatakan memiliki aspek faedah atau didaktis jika sastra tersebut mampu mempengaruhi akal pikiran pembacanya, mampu menggiring pikiran pembaca.
3.Aspek kesempurnaan rohani
karya sastra bisa dikatakan memiliki aspek faedah atau didaktis jika sastra tersebut mampu meneguhkan iman pembaca, menjelaskan hukum agama, dogma dan metafisika Islam kepadanya, sehingga pembaca menjadi lebih baik keteguhan imannya.Pemaparan yang telah disajikan dalam makalah ini juga menunjukkan bahwa kesusastraan Melayu klasik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Muli dari proses tarnsisi budayanya dari hinduisme-budhiesme menuju Islam. Kesusastraan Melayu klasik mencapai puncak keemasannya sejalan dengan berkembang pesatnya ajaran Islam di Nusantara. Dari berbagai karya sastra yang dihasilkan, karya sastra yang bercorak tasawuf lebih mendonisasi, baik sastra prosa maupun puisi. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Islam khususnya tasawuf dalam diri para sastrawan Melayu klasik.


2).  Karakteristik Sastra Klasik Nusantara.

1. Antonim.Anonim dalam artian tidak diketahui siapa pengarangnya, ini disebabkan karena tempo dulu tidak banyak orang yang mengejar popularitas sehingga pengarangnya lebih fokus untuk menyajikan maha karya yang menitikberatkan pada fungsi cerita.Beberapa contoh dari karya sastra melayu klasik  pada umumnya terdapat di setiap cerita-cerita klasik, seperti “Hikayat hang tuah”, Hikayat raja indra”, “hikayat indra bangsawan”, “Hikayat malim demam".

2.Bertema istana Sentris..Jenis ceritanya berlatar belakang istana. Tokohnya biasanya raja atau pangeran yang sakti dan kisahnya mengenai percintaan. Akhir cerita selalu bahagia.

3.Bernilai budaya lokal.Ciri yang ketika dari karya sastra melayu klasik adalah penciptaan karya sastra melayu klasik biasanya mengusung budaya lokal, sehingga dari Cerita kaya sastra melayu klasik pembaca bisa mendapat gambaran moral masyarakat yang hidup pada jaman dulu

4.Disebar secara lisan.Ciri yang terakhir ialah disebarkan secara lisan. penyebab utamanya adalah pergerakan zaman dahulu sangatlah lambat jika dibandingkan dengan konvoi masyarakat di zaman modern ini. Oleh karena itu, penyebaran budaya dan cerita secara lisan akan lebih mempercepat tersebarnya cerita dibandingkan dengan menggunakan media tulisan. Selain itu, melalui budaya lisan, masyarakat juga mampu lebih intens memberikan nilai-nilai positif nan terdapat di dalam cerita sehingga pesan moral yang terdapat di dalamnya akan sampai kepada pendengar dengan lebih cepat dan efektif.

5.Didaktis.Memberikan pesan mendidik kepada masyarakat baik pesan moral maupun pesan keagamaan atau religius.

6.Tradisional.Mempertahankan kebiasaan masyarakat jaman dulu atau adat istiadat

7.Klasik imitatif.Bersifat tiruan atau kebiasaan tiru-meniru yang turun-menurun.

8.Universal.Dapat berlaku dimana saja, kapan saja, siapa saja.


3). Contoh-contoh teks/lisan sastra klasik nusantara.

Contoh Dalam Modul Kalimat :

Hang Tuah terlahir dari seorang ibu bernama Dang Merduwati, sementara ayahnya dipanggil Hang Mahmud. Karena kesulitan hidupnya, mereka pindah ke Pulau Bintan, di mana raja tinggal dengan harapan mendapatkan keberuntungan di sana. Mereka membuka warung dan hidup sangat sederhana.

Semua teman Hang Tuah berani, mereka adalah Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Suatu ketika ketika kelima pergi berlayar. Di tengah lautan dia dihadang oleh sekelompok pencuri. Hang Tuah menggunakan taktik, membawa mereka ke tanah tempat mereka bertarung.

Mereka membunuh sepuluh perampok, sementara yang lain melarikan diri. Dari sedikit orang yang bisa dipenjara, mereka mengaku berasal dari daerah Siantan dan Jemaja atas perintah Gajah Mada di Majapahit.

Pada kenyataannya ia diperintahkan untuk menyerang Palembang tetapi angin kencang membawa mereka hilang ke Malaka. Akhirnya, keberanian Hang Tuah dan teman-temannya mencapai raja sehingga raja senang dengan mereka. Suatu ketika ada kemarahan di pasar, orang-orang berlari ketakutan. Hang Tuah juga bisa membunuh orang itu.

Hang Tuah kemudian diangkat sebagai penyanyi istana (pelayan raja), pada waktu itu diminta untuk menyerang Palembang yang diduduki oleh Siantan dan Jemala. Hang Tuah berhasil, maka ia diangkat menjadi Laksamana. Hang Tuah dikirim berkali-kali ke luar negeri, Cina, Rum, Majapahit, dan juga pernah ke Haji. Di akhir hidupnya, Hang Tuah tinggal di Tanjung Jingara.


Contoh Dalam Modul Talibun:

Jika anak pergi ke lepau.

Yu membeli belanak merah dan bahkan membelinya.

Beli ikan panjang dulu.

Jika anak pergi ke luar negeri.

Saya juga mencari kerabat.

Sang induk semang mencari dia dulu.


Contoh Dalam Modul Soneta:

Perasaan siapa yang akan menyala.

Lihat seorang anak dengan drum.

Satu di tengah lapangan.

Tidak ada kemeja dengan kepala terbuka.

Ini adalah nasib gembala.

Berlindung di bawah hutan rindang.

Sejak pagi dia sudah meninggalkan kandang.

Kembali ke rumah saat senja.

Sedikit tentang sejauh mana itu.

Saya mendengar suara bel.

Di keindahan alam.

Atau gembala berwarna hijau.

Dengarkan murid Anda sesuai dengan kerbau.

Aku akan menurutimu.


Contoh Dalam Modul Stanza:

PERTANYAAN KECIL UNTUK ANAK-ANAK

Atau kayu dan dedaunan!

Mengapa kamu bersenang-senang?

Tertawa dengan sukacita?

Dengan angin dan ketenangan, serang?

Apakah angin tertawa bersama kita?

Apakah kita senang dengan cerita yang bagus?

Saya tidak mengerti kesukaanmu!

Kenapa kamu tertawa?


Hai kumbang bernyanyi!

Apa yang kamu nyanyikan?

Kamu terlihat seperti bunga!

Apa yang kamu mainkan?

Apakah dia atau dia gila?

Anda? Mengapa? Bagaimana?

Kenapa kamu tertawa?


Contohnya Dalam Modul Syair:

Puisi Ken Tambuhan.

Lalu berjalanlah Ken Tambuhan.

Penglipur disertai dengan Tadahan.

Berjalan manis perlahan.

Perilakunya kasihan manis.

Menangislah ke semua putri.

Semua orang mengatakan hal yang sama sendirian.

Kejahatan temperamen permaisuri.

Putranya seperti jenius dan peri.

Syair Abdul Muluk.

Hentikan kisah raja Hindustan.

Juga dikatakan adalah sebuah kata.

Abdul Hamid Syah Paduka Sultan.

Duduk, Yang Mulia.

Abdul Muluk adalah putra Yang Mulia.

Hebat adalah bangsa muda.

Proposal Syahda yang indah.

Tiga belas tahun di sana.

Kecantikan sangat sempurna.

Alur majelis yang bijaksana adalah seperti ini.

Berikan hati yang goyah.

Cintai itu mulia dan tercela.


Contoh Dalam Modul Karmina:

Kelapa parut rasanya enak.

Sehingga perut yang gemuk itu baik.


Contoh Dalam Modul Pantun:

Sandal di atas batu.

Sudah diikat dibawa pulang.

Kebiasaan dunia seperti ini.

Hal-hal buruk terbuang sia-sia.


Contoh Dalam Modul Gurindam:

Pabila memarahi banyak orang.

Ini adalah tanda yang dia lewatkan.

Dengan ibu Anda harus menghormati.

Sehingga tubuh bisa bertahan.


Contoh Dalam Modul Sloka :

Pikiran yang baik, ibu, Randang.

Perdagangan lalu ditanam.

Tidak ada rumah kayu yang dibongkar.

Bocah itu pulang lapar.

Bayi di pangkuannya dibaringkan.

Monyet hutan diberi ASI.


Contohnya Dalam Modul Bidal:

Taruhan besar dibandingkan dengan tiang berarti biaya pendapatan besar.

Seekor anjing menggonggong tidak menggigit, yang berarti mulut besar tetapi pengecut.


Contoh Dalam Modul Mantra:

Pulanglah ke hutan desa.

Pulanglah ke hutan besar.

Pulanglah ke Gunung Guntung.

Pulanglah ke sungai yang tidak memiliki kepala.

Pulang ke kolam tanpa orang.

Pulanglah ke musim semi yang tidak kering.

Jika Anda tidak ingin kembali, mati.


4). Situasi Bahasa Genre Sastra Klasik Nusantara
Sastra Melayu atau Kesusastraan Melayu adalah sastra yang hidup dan berkembang di kawasan Melayu. Sastra Melayu mengalami perkembangan dan penciptaan yang saling mempengaruhi antara satu periode dengan periode yang lain. Situasi masyarakat pada jaman sebelum Hindu, jaman Hindu, jaman peralihan dari Hindu ke Islam, dan jaman Islam, berpengaruh kuat pada hasil-hasil karya sastra Melayu. Terjadi hubungan yang erat antara tahap perkembangan, kehadiran genre, dan faktor lain di luar karya sastra.
Sastra Melayu berkembang pesat pada jaman Islam dan sesudahnya, karena tema-tema yang diangkat seputar kehidupan masyarakat Melayu, meskipun beberapa ada pengaruh asing. Sebelum jaman Islam, konteks penceritaannya lebih berorientasi ke wilayah di luar Melayu, yaitu India dengan latar belakang kebudayaan Hindu.
Yang dimaksud dengan Sastra Melayu Klasik adalah sastra yang hidup dan berkembang di daerah Melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam hingga mendekati tahun 1920-an di masa Balai Pustaka. Masa sesudah Islam merupakan zaman dimana sastra Melayu berkembang begitu pesat karena pada masa itu banyak tokoh Islam yang mengembangkan sastra Melayu.
Kesusastraan Melayu sebelum Islam tidak ada nuansa Islam sama sekali dan bentuknya adalah sastra lisan. Isi dan bentuk sastranya lebih banyak bernuansa animisme, dinamisme, dan Hindu-Budha, dan semua hasil karya tersebut dituangkan dalam bentuk prosa dan puisi. Untuk puisi, tampak tertuang ke dalam wujud pantun, peribahasa, teka-teki, talibun, dan mantra. Bentuk yang terakhir ini (mantra), sering dikenal dengan jampi serapah, sembur, dan seru. Sedangkan bentuk prosa, tampak tertuang dalam wujud cerita rakyat yang berisi cerita-cerita sederhana dan berwujud memorat (legenda alam gaib yang merupakan pengetahuan pribadi seseorang), fantasi yang berhubungan dengan makhluk-makhluk halus, hantu dan jembalang.
Perkembangan kesusastraan Melayu sesudah kedatangan Islam ditandai dengan penggunaan Huruf Arab yang kemudian disebut Tulisan Jawi atau Huruf Jawi, yang dalam perkembangannya dikenal dengan istilah Arab Melayu. Hal ini dikarenakan masyarakat Melayu merasa bahwa tulisan tersebut telah menjadi milik dan identitasnya. Huruf Jawi ini diperkenalkan oleh para pendakwah Islam untuk membaca al-Qur`an dan menelaah berbagai jenis kitab dari berbagai disiplin ilmu. Perkembangan penulisan ini sangat pesat karena Islam memperbolehkan semua orang untuk menulis dalam berbagai bidang.


C.PENUTUP
Sastra adalah Suatu hasil karya baru dapat dikatakan memiliki nilai sasatra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk bahasanya baik dan indah, dan susunannya beserta isinya dapat menimbulkan perasaan haru dan kagum di hati pembacanya.
Bentuk dan isi sastra harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan yang mendalam di hati para pembacanya sebagai prwujudan nilai-nilai karya seni. Apabila isi tulisan cukup baik tetapi cara pengungkapan bahasanya buruk, karya tersebut tidak dapat disebut sebagai cipta sastra, begitu juga sebaliknya.
Sastra lama yaitu sastra yang hidup dan berkembang pada masa melayu, disebut sastra melayu klasik karena pada saat itu belum mengenal tulisan dan masih berupa lisan.




Referensi:
https://www.dosenpendidikan.co.id/karya-sastra-melayu-klasik/
https://docplayer.info/33347522-Bab-i-pendahuluan-a-latar-belakang-masalah-karya-sastra-merupakan-hasil-cipta-manusia-yang-lahir-dari-ekspresi-jiwa.html
http://naufalqadri.blogspot.com/2014/01/sastra-melayu-klasik.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Analisis Sastra Objektif dan Mimetik

Sastra dan Pendidikan Sastra

Pendekatan Analisis Sastra Ekspresif dan Pragmatik