Teori sastra,Kritik sastra,Sejarah sastra
Laporan Bacaan 4 oleh:
Berlian Putri Arifin 21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd
Teori sastra,Kritik sastra,Sejarah sastra
A.PENDAHULUAN
Teori sastra dan sejarah sastra dalam kajian ini lebih mendekatkan pada pendekatan sejarah sastra yang
tradisional, prinsip dasar sejarah sastra beberapa faktor yang relevan untuk sejarah sastra, penulisan
sejarah sastra, dan sejarah sastra Indonesia. Sastra, khususnya sastra Indonesia, sering diidentikan
dengan seni dalam tulis menulis oleh masyarakat awam.Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena sebuah
karya sastra yang dapat banyak aspek yang mendukung sebuah kesenian. Berbicara tentang seni, tidak
dapat dilepaskan dari estetika.
Seni memang tidak dapat dipisahkan dari sebuah keindahan walau sebuah seni itu belum tentu indah,
namun setiap karya itu sedikit hanya memiliki estetika dimata sebagian orang. Keindahan ada dimanamana. Disetiap pandangan alam terdapat keindahan. Bahkan setiap benda sedikit banyak menyiratkan
keindahan, walupun sedikit keindahan dapat ditangkap oleh setiap indera manusia. Dengan indera
itulah, manusia menikmati setiap keindahan yang ada. Khususnya karya sastra, manusia dapat
merasakan keindahan dari tulisan-tulisan yang mencerminkan pemikiran dari sang penulis.
B.PEMBAHASAN
- Hakikat dan kaitan Teori Sastra.
Kata teori sastra berasal dari dua kata, yaitu kata teori dan kata sastra.
Apakah teori dan apakah sastra, merupakan pertanyaan yang di dalam ilmu
sastra menimbulkan fenomena yang tidak mudah dijawab dengan begitu saja.
Kedua kata tersebut berada pada dua kategori kata yang berbeda.
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada Kegiatan Belajar 1, yang
dimaksud dengan teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari
tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang
membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud
dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang
menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati.
Teori berisi konsep/uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu
pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Suatu teori dapat dideduksi
secara logis dan dicek kebenarannya(diverifikasi) atau dibantah kesahihannya
pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut.
Berdasarkan pengertian tersebut, kaitan dengan teori sastra, apakah
sastra suatu karya ilmiah yang dapat dibuktikan kebenarannya, yang dapat
dibantah kesahihannya? Pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab karena
menyangkut hakikat sastra. Karya sastra bukanlah karya yang ilmiah yang
dapat dirunut kebenaran faktualnya sebagaimana merunut kebenaran berita
surat kabar tentang peristiwa tertentu, atau merunut berita yang diceritakan
seseorang tentang kejadian tertentu. Kebenaran pada karya sastra bukanlah
kebenaran yang bersifat faktual tetapi kebenaran yang bersifat kemanusiaan.
Sastra adalah deskripsi pengalaman kemanusiaan yang memiliki dimensi
personal sekaligus dimensi sosial. Dalam sastra, pengalaman dan
pengetahuan kemanusiaan itu secara fundamental mengandung gagasan
estetis yang menimbulkan rasa indah, senang, dan menggugah hati. Dengan
membaca karya sastra kita diperkenalkan kepada kekayaan-kekayaan batin
yang memungkinkan kita mendapatkan insight, persepsi, dan refleksi diri
sehingga kita dapat masuk ke dalam pengalaman nyata hidup kita. Inilah kenyataan faktual yang terdapat di dalam karya sastra yang hanya dapat
diperoleh dengan hatinya masuk ke dalam karya sastra. Oleh karena itu,
sastra penting dipelajari sebagai sarana berbagi pengalaman dalam mencari
dan menemukan kebenaran kemanusiaan. Dengan demikian teori sastra
adalah ilmu yang mengungkapkan tentang sastra sebagai karya yang memuat
pengalaman batin manusia.
Teori sastra sudah banyak ditulis orang. Masing-masing teori
berkembang sesuai dengan sudut pandang yang berbeda. M.H. Abrams dalam
bukunya The Mirror and The Lamp: Romantic Theory and The Critical
Tradition mencoba membanding-bandingkan model-model teori sastra yang
telah banyak ditulis, dan menyimpulkan bahwa teori-teori tersebut beraneka
ragam, bahkan mengacaukan. Untuk mempelajari karya sastra, dia mencoba
melihat situasi sastra dalam konteks keseluruhan, sebagai suatu keutuhan.
Diagram yang dikemukakannya dalam melihat konteks sastra sebagai
berikut.
1. Universe (realita kehidupan) sebagai objek faktual karya sastra. Karya
sastra merupakan cermin kehidupan masyarakat. Di dalam karya sastra
ditemukan fenomena kehidupan nyata yang karenanya menimbulkan
insight, kesan yang dalam bagi pembacanya. Karya sastra merupakan
mimesis kehidupan. Dari sudut pandang ini, teori mimesis dan
pendekatan mimesis merupakan teori dan sekaligus pendekatan yang
digunakan dalam mengkaji karya sastra
2. Work (karya sastra itu sendiri) sebagai suatu objek yang dipelajari. Karya
sastra sebagai suatu karya yang telah dihasilkan penulisnya memiliki
struktur sendiri yang membangun keutuhan dirinya. Sebagai suatu karya
ia telah terlepas dari pengarangnya. Dari sudut pandang ini, teori dan
pendekatan struktural, atau pendekatan objektif merupakan teori dan
pendekatan yang digunakan dalam mempelajari karya sastra,
3. Artist (pencipta karya sastra). Sebagai seorang pengarang yang
menghasilkan karya sastra dia berangkat dari berbagai ide, pemikiran,
perasaan, pandangan, gagasan serta hal lain yang menyebabkan ia
akhirnya menulis karya sastra. Ia mengekspresikan segala yang terdapat
di dalam dirinya ke dalam bentuk karya sastra. Dari sudut pandang ini,
teori ekspresif dan pendekatan ekspresif merupakan teori dan pendekatan yang digunakan dalam mempelajari karya sastra, dan
4. Audience (pembaca). Pembaca adalah penikmat karya sastra. Pengarang
menulis karya sastra tentunya untuk dibaca, untuk dinikmati oleh orang
lain. Dari sudut pandang ini, teori pragmatik dan pendekatan pragmatik
digunakan dalam mempelajari karya sastra, yaitu penekanan pada aspek
pembaca sebagai penikmat karya sastra.
A. Teeuw dalam Sastra dan Ilmu Sastra, mengemukakan bahwa Abrams
telah berhasil meletakkan kerangka dasar teori sastra. Dengan keempat
kerangka dasar ini penelitian terhadap karya sastra dapat menggunakan teori
yang lebih terarah dan sistematis. Dalam pengkajian karya sastra, keempat
pendekatan ini merupakan pendekatan yang mendasar, yang merupakan dasar
dari berbagai pendekatan lainnya yang berkembang sekarang ini.
Di sisi lain, Rahman Selden (l985: X), dalam Yoseph Yapi Taum, juga
mengklasifikasikan teori sastra berdasarkan atas kerangka diagram
komunikasi linguistik Roman Jacobson. Skema komunikasinya adalah
sebagai berikut.
Sama halnya dengan Abrams, masing-masing komponen merupakan
dasar teori untuk mempelajari karya sastra. Bagi Selden, karya sastra memuat
pesan, hubungan, kode yang disampaikan pengirimnya (pengarangnya).
Pendengar adalah orang yang menerima pesan tersebut sebagai penikmat
karya sastra. Setiap pembicaraan dari pengirim ada konteksnya, ada situasi
berbahasa yang dikemukakan, ada realita dalam pembicaraan. Pembicaraan
tentang karya sastra tergantung kepada dari sudut mana akan dilihat karya itu.
2. Kritik Sastra.
Kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, memberi penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Kritikan diberikan untuk memberikan masukan kepada penulisnya tentang kondisi karya yang dihasilkannya dengan harapan akan menjadi bahan masukan baginya untuk perbaikan selanjutnya. Dengan kata lain, sasaran kritikus sastra adalah penulis atau penghasil karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra dari sudut keunggulan atau kelemahan karya sastra kritikus sastra tidak bersifat subjektif. Dia harus bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra. Dia bekerja berdasarkan atas teori sastra yang menjadi landasannya dalam memberikan penilaian terhadap karya yang ditelitinya. Dalam hal ini teori sastra merupakan sumber rujukan bagi kritikus sastra sehingga kritik sastranya bermakna bagi penulisnya.
3. Sejarah Sastra.
Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan
sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada
masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak
karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang
terjadi di seputar masalah sastra. Dengan mempelajari sejarah sastra, kita
dapat mengetahui perjalanan sastra dari waktu ke waktu sebagai bagian dari
pemahaman terhadap budaya bangsa.
Tugas sejarawan sastra bukan hanya sekadar mencatat, dan
menginventarisasi karya sastra, tetapi tugasnya lebih dari itu. Sebagai suatu
kegiatan keilmuan sastra, ia harus mendokumentasikan karya sastra
berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya, gejala-gejala yang ada, pengaruh yang
melatarbelakanginya, karakteristik isi dan tematik, periode-periode yang
memuat karya-karya sastra, serta masalah lainnya yang menyangkut masalah
sastra. Oleh karena itu, dalam mempelajari sejarah sastra tidak lepas dari
teori dan kritik sastra.
Sejarah sastra mempunyai ruang cakupan yang cukup luas. Ada sejarah
sastra suatu bangsa, ada sejarah sastra suatu daerah, ada sejarah sastra suatu
kesatuan kebudayaan, ada pula sejarah berdasarkan jenis (genre) sastra, ada
pula sejarah sastra komparatif. Sejarah sastra suatu bangsa, misalnya Sejarah
Sastra Indonesia, Sejarah Sastra Cina, Sejarah Sastra Amerika; Sejarah
sastra daerah, misalnya Sejarah Sastra Bugis, Sejarah Sastra Sunda; Sejarah
sastra suatu kebudayaan, misalnya Sejarah Sastra Klasik, Sejarah Sastra Romantik, Sejarah Sastra Renaissance, Sejarah Sastra Melayu, Sejarah Sastra
Modern, Sejarah sastra berdasarkan genre sastra adalah Sejarah
Perkembangan Puisi, Sejarah Perkembangan Novel, Sejarah Perkembangan
Drama. Sejarah sastra komparatif, yaitu sejarah sastra yang mengkaji dan
membandingkan beberapa karya sastra pada masa lalu, masa pertengahan,
dan masa kini. Yang dikaji dan dibandingkan bisa meliputi karya sastra
antarnegara, atau karya sastra dalam satu negara.
Contoh:
Sebagai salah satu contoh sejarah sastra komparatif dapat Anda ikuti berikut
ini!
Indonesia sebagai negara yang banyak suku bangsa dan ragam
budayanya memiliki cerita rakyat yang hampir sama temanya, misalnya
dongeng tentang asal mula padi sebagai makanan pokok bangsa
Indonesia. Di berbagai daerah di Indonesia cerita ini menyebar dan
dapat dibandingkan sehingga ditemukan kesamaan dan perbedaan jalan
ceritanya. Walaupun terdapat kesamaan tema tetapi terdapat
perbedaan dalam isi (pengembangan) cerita. Cerita-cerita rakyat yang
memiliki kesamaan tema ini merupakan peristiwa sejarah sastra
Nusantara yang memperlihatkan kesatuan budaya yang melandasi
kehidupan bangsa kita.
Pengkajian sejarah sastra di Indonesia belum banyak dilakukan. Teeuw
(1984), mengatakan bahwa sudah terdapat beberapa buku tentang pengkajian
sejarah sastra Indonesia, tetapi pengkajian tersebut belum dapat memuaskan
dari sudut teori sastra. Menurut Teeuw, pengkajian sejarah sastra hendaklah
bertolak dari berbagai cara yang dapat membantu peneliti dalam meneliti
sejarah sastra sehingga menghasilkan sejarah sastra yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selanjutnya Todorov (1985)
mengemukakan bahwa tugas sejarah sastra adalah meneliti keragaman setiap
kategori sastra, meneliti jenis karya sastra baik secara diakronis, maupun
sinkronis, serta menentukan kaidah keragaman peralihan sastra dari suatu
masa ke masa berikutnya. Tugas yang dilakukan oleh sejarawan sastra tidak
terlepas dari hasil kritik sastra yang dilakukan peneliti sastra. Dari hasil kritik
sastralah sejarawan sastra dapat menggolong-golongkan karya sastra sesuai
dengan kategorinya
4. Kritik dan Sejarah Sastra.
• Penelitian sejarah sastra perlu bantuan kritik
sastra, tidak semua KS yang terbit dijadikan
penelitian sejarah sastra.
• Untuk memilih KS yang diteliti sejarah sastra
perlu bahan kritik sastra, sebab tugas kritik
menentukan nilai suatu KS.
• Kritik sastra membutuhkankan bahan sejarah
sastra, terutama dalam hal menentukan asli
tidaknya sebuah KS atau ada tidaknya unsur
pengaruh dari sastra lain.
5. Jenis Teori
- Teori Psikoanalisis Teori ini menganggap bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia yang memiliki perilaku yang beragam dipengaruhi oleh kondisi psikologis seseorang yang akan mempengaruhi kehidupannya. Secara langsung karya sastra adalah produk dari jiwa dan pemikiran pengarang yang berada dalam kondisi setengah sadar. Para pakar psikologis yang terkenal dalam pendekatan teori ini adalah Jung, Adler, Freud, dan Brill memberikan banyak kontribusinya terhadap teori ini..Teori ini biasanya terbagi dalam tiga aspek yaitu Id, Ego dan Superego. Id adalah naluri makhluk hidup dalam rangka mempertahankan eksistensinya di muka bumi. Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab dalam menangani sebuah realitas (memuaskan keinginan Id dengan cara yang realitas). Superego adalah pengendali Id dan Ego yang berasal bukan dari diri sendiri melainkan penyerapan standar aturan dan pranata dari pendidikan orang tua dan lingkungan sekitar.
- Teori Struktural.Teori ini tidak memperlakukan karya sastra sebagai objek kajiannya karena yang menjadi kajiannya adalah sistem sastra itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama lain dalam keseluruhan yang utuh. Teori ini dapat dideskripsikan terpisah dari pengarang ataupun realitas sosial.
- Teori Feminisme.Teori ini adalah cerminan realitas sosial patriarki. Berawal dari gejolak para perempuan yang tertindas oleh sistem sosial patriarki, teori feminisme ini tidak berdiri di dalam satu aliran. Feminisme terdiri atas beberapa aliran seperti aliran liberalis, marxis, sosialis, eksistensialis, psikoanalitik, radikal, postmodern, dll. Tokoh-tokoh terkemuka dalam teori ini adalah Helena Cixous, Virginia Wolf, dan Kate Millet. Dengan adanya teori ini, semakin banyak bermunculan sastrawati bahkan para wanita yang telah membuat karya sastra dengan menggunakan nama laki-laki mulai berani menunjukan siapa jati diri sebenarnya.
6. Manfaat Teori,Kritik,Sejarah Sastra.
- Kritik sastra
1. Mengembangkan ilmu sastra sendiri.Kritik sastra dapat mengembangkan teori sastra dan sejarah
sastra.
2. Mengembangkan kesusastraan.Kritik sastra mengembangkan kesusastraan suatu bangsa dengan penilaiannya.
3. Memberikan masukan terhadap masyarakat umum. Hasil analisis kritik sastra dapat membantu masyarakat dalam memahami dan mengapresiasi suatu karya sastra.
- Teori Sastra
1. Sebagai dasar untuk belajar sejarah sastra dan kritik sastra.
2. Mengetahui konsep-konsep dasar dalam bidang sastra. (prosa, puisi dan drama).
3. Mempermudah peneliti sastra dalam menganalisis kajian sastra.
- Sejarah Sastra
1. Sejarah Sastra sebagai Rekonstruksi Masa Lalu
2. Sejarah Sastra sebagai Catatan Pengaruh Karya Sastra pada Pembaca
3. Sejarah Sastra sebagai ilmu bantu bagi Pemaknaan Sastra
2. Sejarah Sastra sebagai Catatan Pengaruh Karya Sastra pada Pembaca
3. Sejarah Sastra sebagai ilmu bantu bagi Pemaknaan Sastra
7. Fiksionalitas Karya Sastra
Fiksi adalah cerita atau latar yang berasal dari imajinasi dengan kata lain, tidak secara ketat berdasarkan sejarah atau fakta. Fiksi bisa diekspresikan dalam beragam format, termasuk tulisan, pertunjukan langsung, film, acara televisi, animasi, permainan video, dan permainan peran. Walaupun istilah fiksi ini awalnya lebih sering digunakan untuk bentuk sastra naratif, termasuk novel, novella, cerita pendek, dan sandiwara. Fiksi biasanya digunakan dalam arti paling sempit untuk segala "narasi sastra".
Karya fiksi merupakan hasil dari imajinasi kreatif, jadi kecocokannya dengan dunia nyata biasanya diasumsikan oleh audiensnya. Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata bisa saja terjadi di dunia fiksi.
Fiksionalitas karya sastra tidak beda jauh dengan karya fiksi, yaitu unsur imajinasi atau khayalan yang ada di dalam karya satra itu sendiri, seperti prosa, puisi, dan drama yang di mana ketika membuat ketiga karya itu banyak menggunakan imajinasi atau khayalan penulis atau pengarang.
Bagian-Bagian Fiksi (Gendre)
Fiksi pada umumnya terbagi menjadi sejumlah genre: bagian-bagian dari fiksi, masing-masingnya dibedakan oleh gaya, teknik naratif, isi media, atau kriteria yang didefinisikan secara populer. Meskipun sebuah karya tergolong imajiner tetapi ia memiliki golongan yang disebut Fiksi Non-fiksi (Nonfiction Fiction), yakni sebuah bentuk karya fiksi yang dasar ceritanya merupakan sebuah fakta. Yang termasuk kedalam Fiksi Non-fiksi adalah:
- Fiksi sejarah (Historical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya merupakan sejarah. Novel ini terikat oleh fakta-fakta sejarah, tetapi fiksi ini memberikan ruang gerak untuk fiksionalitas, misalnya dengan memberitakan pikiran dan perasaan tokoh lewat percakapan. Sebagai contoh adalah Bendera Hitam dari Kurasan dan Tentara Islam di Tanah Galia karya Darji Zaidan.
- Fiksi ilmiah (Science fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya adalah fakta ilmu pengetahuan. Sebagai contoh novel ini adalah 1984, karya George Orwell. Genre ini misalnya, memprediksi atau mengandaikan teknologi yang bukan realita pada saat penciptaan karya tersebut: novel Jules Verne From the Earth to the Moon diterbitkan pada tahun 1865 dan pada tahun 1969, astronot Neil Armstrong pertama kali mendarat di bulan.
- Fiksi biografis (Biographical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya adalah fiksi biografis. Karya biografis juga memberikan ruang bagi fiksionalitas, misalnya yang berupa sikap yang diberikan oleh penulis, di samping juga munculnya bentuk-bentuk dialog. Sebagai contoh karya biografis adalah Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams, Kuantar Kau ke Gerbang dan Tahta untuk Rakyat.
C.PENUTUP
Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang
prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang
membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang
dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan
sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejalagejala yang diamati.Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum
umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu.
Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek
kebenarannya(diverifikasi) atau dibantah kesahihannya pada objek atau
gejala-gejala yang diamati tersebut.
Kritik sastra juga bagian dari ilmu sastra. Istilah lain yang
digunakan para pengkaji sastra ialah telaah sastra, kajian sastra,
analisis sastra, dan penelitian sastra.
Untuk membuat suatu kritik yang baik, diperlukan kemampuan
mengapresiasi sastra, pengalaman yang banyak dalam menelaah,
menganalisis, mengulas karya sastra, penguasaan dan pengalaman yang
cukup dalam kehidupan yang bersifat nonliterer, serta tentunya
penguasaan tentang teori sastra.
Sejarah sastra bagian dari ilmu sastra yang mempelajari
perkembangan sastra dari waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciriciri karya sastra pada masa tertentu, para sastrawan yang mengisi arena
sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi dunia sastra, serta
peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah sastra. Sebagai suatu
kegiatan keilmuan sastra, seorang sejarawan sastra harus
mendokumentasikan karya sastra berdasarkan ciri, klasifikasi, gaya,
gejala-gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakanginya,
karakteristik isi dan tematik.
Referensi:
http://repository.ut.ac.id/4735/1/PBIN4104-M1.pdf
https://osf.io/2s3wf/download
https://www.dictio.id/t/apa-hubungan-teori-sastra-dengan-kritik-sastra-dan-sejarah-sastra/127460/2
http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/198104252005012-HALIMAH/Cabang_Ilmu_Sastra.pdf
https://jalursebelas.wordpress.com/2015/11/16/rangkuman-materi-teori-sastra/
https://id.wikipedia.org/wiki/Kritik_sastra
https://www.dictio.id/t/apa-saja-fungsi-dan-tujuan-dalam-menggali-sejarah-sastra/8593/2
Komentar
Posting Komentar