PROSA

 Laporan Bacaan 7 oleh:

Berlian Putri Arifin  21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd

PROSA


A.PENDAHULUAN.

Prosa dalam pengertian kesusastraan disebut fiksi (fiction), teks naratif atau wacana naratif. Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan atau cerita khayalan. Fiksi menceritakan atau melukiskan kehidupan, baik fisik maupun psikis, jasmani maupun rohani. Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan dalam interaksinya dengan lingkungan sendiri, maupun dengan Tuhan. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Walau berupa khayalan, fiksi dihasilkan dari perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran oleh pengarangnya.
Karya fiksi, seperti halnya dalam kesusastraan Inggris dan Amerika, merujuk pada karya yang berwujud novel dan cerita pendek. Menurut The American College Dictionary (dalam Tarigan, 1984:164) novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau dan kusut. Dewasa ini istilah novella dan novele mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia “Novellet”. Menurut Abrams (dalam Nurgiantoro, 2010:9) novellet adalah sebuah karya sastra yang tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. Menurut Watt (dalam Tuloli, 2000:17) berpendapat, novel adalah suatu ragam sastra yang memberikan gambaran pengalaman manusia, kebudayaan manusia, yang disusun berdasarkan peristiwa, tingkah laku tokoh, waktu dan plot, suasana dan latar. Memperhatikan pengertian novel di atas, dapat dikemukakan bahwa novel merupakan karya sastra yang mengungkapkan sisi kehidupan para pelaku dan cerita dalam novel tidak harus panjang. Penelitian ini menggunakan novel sebagai objek penelitian, walaupun dianalisis dengan menggunakan deiksis. 
Dari pengertian tentang prosa dan novel, peneliti menarik kesimpulan bahwa di dalam kehidupan khususnya karya sastra sisi kehidupan pelaku diangkat di dalamnya. Misalnya dalam novel “Yang Miskin Dilarang Maling” (selanjutnya disingkat YMDM) sisi kehidupan tokoh utama bernama Sukasman dan keluarganya yang serba kekurangan diangkat dalam novel dan tokoh pendukung lainnya. Untuk melukiskan peristiwa yang terjadi dalam novel maka digunakan bahasa sebagai sarana pengungkapannya. Bahasa sebagai medium dalam novel, memegang peranan penting dalam kehidupan. Tanpa bahasa manusia tidak akan bisa berbahasa dengan manusia lain. Jadi, bahasa memegang peran penting sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan manusia. Bahasa adalah salah satu ciri pembeda utama manusia dengan mahluk hidup lainnya.



B.PEMBAHASAN.

1). Unsur-unsur instrinsik fiksi.

• Latar (setting)

Dalam buku Analisis Fiksi (2012) oleh F. Aziez dan Abdul Hasim, latar adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, berupa tempat, waktu, atau peristiwa yang memiliki fungsi fisikal dan psikologis.

Latar dalam cerita fiksi tidak semata-mata untuk latar yang bersifat fisikal saja, melainkan menuansakan makna tertentu serta mampu menciptakan emosi atau kejiwaan pembaca.

• Penokohan dan perwatakan 

Tokoh merupakan pelaku yang membawa cerita dalam cerita fiksi, sehingga terjalin sebuah kisah. Sedangkan, penokohan dapat diartikan sebagai cara pengarag menampilkan tokoh dana cerita. Tokoh dalam cerita fiksi dibedakan atas tokoh utama dan tambahan. Tokoh dalam cerita fiksi memiliki watak yang sama seperti manusia di dunia nyata. Baca juga: Jenis dan Isi Buku Nonfiksi Terdapat dua sebutan untuk perwatakan tokoh cerita fiksi, yaitu pelaku protagonis (watak baik) dan pelaku antagonis (watak jahat atau buruk).

• Alur (plot) 

Alur sebagai struktur penceritaan atau sebagai alur kejadian yang titik beratnya pada adanya hubungan sebab-akibat. Tahap-tahap alur dalam fiksi, sebagai berikut: 

Eksposisi (tahap awal) .Pada tahap ini, diperkenalkan para tokoh pelaku kepada pemcaba, situasi para tokoh, rencana konflik yang akan terhadi, dan ghambaran mengenai resolusi fiksi. 

Komplikasi.Komplikasi merupakan bibit-bibit unstrik yang berkembang menjadi konflik. Tokoh utama menemui hambatan yang menjauhkan dia dari tujuannya. Dalam komplikasi, pembaca mempelajari serta memahami tipe sosok tokoh utama yang sesungguhnya. 

Klimaks.Klimaks adalah puncak konflik, biasanya terjadi perubahan penting dalam nasib tokoh utama, apakah akan menemui kesuksesan atau sebaliknya.

Denouement.Denouement yaitu penyelesaian yang mebahagiakan atau menyedihkan. Serta solusi untuk penyelesaian konflik secara terbuka (diserahkan kepada pembaca seusai imajinasinya).

•  Sudut pandang (point of view) Sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita. Sudut pandang terbagi menjadi: 
1. Narrator omniscient, yaitu pengusah yang juga berfungsi sebagai pelaku cerita sehingga menjadi penutur yang serba tahu tantang appa yang ada dalam benak pelaku. Pengarang menyebut pelaku utama dengan sebutan saya atau dia 

2. Narrator observe, adalah bla pengisah hanya berfungsi sebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu. Pengarang menyebut pelaku utama dengan ia, dia, atau namanya. 

3. Narrator observe omniscient, yakni pengarang hanya menjai pengamat dari para pelaku, tetapi juga pengusah yang serba tahu. Pengarang diibaratkan sebagai dalang. 

4. Narrator the third person omniscient, adalah pengarang hadir di dalam cerita yang diciptakannya sebagai pelaku ketiga yang serba tahu. Pengarang dimungkinkan menyebut namanya sendiri (saya atau aku).

• Tema 
Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tema sebagai tempat meletakkan suatu perangkat karena tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam menciptakan cerita. Pengarang dan pembaca biasanya memahami tema secara terbalik. Pengarang harus memahami tema sebelum proses kreatif penciptakan fiksi, sednagkan pembaca baru memahami tema setelah selesai memahami cerita. Tema-tema suatu cerita fiksi secara umum dapat dikelompokkan pada persoalan adat, sosial-politik, pendidikan, dan sebagainya. 

• Amanat
Amanat merupakan pikiran pokok hasil renungan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Pokok pikiran ini merupakan endapan dari hassil perenungan pengarang yang disajikan pengarang kepada pembaca melalui cerita.Di dalam karya sastra fiksi modern, amanat biasanya tersirat, sedangkan di dalam karya sastra lama pada umumnya tersurat. Sehingga, untuk memahami amanat karya sastra modern, pembaca harus mencari sendiri amanat yang tersembunyi.

2). khusus fakta cerita
Sayuti mengemukakan bahwa cerita fakta cerita merupakan hal-hal yang akan diceritakan di dalam sebuah karya fiksi. Fakta cerita dalam karya fiksi meliputi plot, tokoh dan latar. Suatu hal yang akan diceritakan dirangkai dalam susunan peristiwa dalam kerangka unsur plot, tokoh dan latar. Untuk selanjutnya akan dibahas satu persatu mengenai fakta cerita.

• Plot
Istilah plot sama artinya dengan alur. Dalam sebuah cerita pasti ada rangkaian peristiwa yang diuraikan “peristiwa yang diuraikan itu membentuk tulang punggung cerita, yaitu alur.

• Tokoh dan Penokohan
Kehadiran tokoh cerita didalam ceitanya di dalam sebuah cerita (novel) sangat penting pernannya, karena tokoh sebagai pelaku yang terlibat dalam cerita, tokohnya yang memerankan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita. Bagaimanakah sebenarnya yangdikehendaki pembaca dari seorang tokoh dapat diterima pembaca, hendaklah memiliki
sifat-sifat yang dikenal pembaca, yang tidak asing baginya, bahkan yang mngkin ada pada diri pembaca itu.

• Latar atau Setting
Latar menurut Sayuti (2000 : 126) merupakan elemen fiksi yang menunjukan kepada kita di mata dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung. Ada pula yang menyebutkan landasa tumpu, yakni lingkungan tempat peristiwa terjadi.

3). Sarana cerita dan tema

   Sarana-sarana sastra dapat diartikan sebagai cara pengarang memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna.Seorang penulis yang serius hendaknya mampu menemukan metode untuk mengendalikan reaksi para pembaca, metode ini disebut sarana-sarana sastra Beberapa sarana dapat ditemukan dalam setiap cerita seperti konflik, klimaks, tone dan gaya, dan sudut pandang. Sarana-sarana paling signifikan diantara berbagai sarana yang kita kenal adalah karakter utama, konflik utama, dan tema utama Stanton, 2007: 51. Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis struktural berusaha untuk menunjukkan dan menjelaskan unsur-unsur yang membangun karya sastra serta hubungan antara unsur-unsur tersebut dalam membentuk makna yang utuh. Adapun langkah-langkah analisis struktural adalah sebagai berikut. a. Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra secara lengkap dan jelas, mana yang tema dan mana yang tokohnya. b. Mengkaji unsur-unsur yang telah diidentifikasikan sehingga diketahui tema, alur, penokohan, latar dalam sebuah karya sastra. c. Menghubungkan masing-masing unsur sehingga memperoleh kepaduan makna secara menyeluruh dari sebuah karya sastra.

   Tema merupakan gagasan utama. Tema memberi kekuatan dan menegaskan kebesatuan kejadian-kejadian yang sedang diceritakan sekaligus mengisahkan kehidupan dalam konteksnya yang paling umum Stanton, 2007: 7. Tema merupakan aspek yang sejajar dengan makna, tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Tema merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detail sebuah cerita Stanton, 2007: 37.



C.PENUTUP.

   Prosa adalah semua teks atau karya rekaan yang tidak berbentuk dialog dan isinya dapat merupakan kisah sejarah atau sederetan peristiwa. Prosa berusaha menampilkan cerita hasil imajinasi, baik dari cerita lisan maupun cerita tulis. Dalam prosa, pengarang mengolah dunia imajinasi dengan dunia kenyataan atau kenyataan sosial budaya yang dihadapinya. bahwa fiksi merupakan cerita rekaan yang bertujuan untuk mendidik. Melalui karya fiksi pengarang menceritakan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan hanya hasil imajinasi tetapi juga merupakan hasil penghayatan dan perenungan secara intens. Rekaan menceritakan sesuatu yang yang tidak ada atau tidak sungguh-sungguh terjadi. Kebenarannya hanya ada dalam cerita itu sehingga tidak perlu dicari diluar dunia rekaan.
    Prosa fiksi dapat dibedakan dalam beberapa bentuk, baik itu roman, novel, novelet, maupun cerpen. Perbedaan dari beberapa bentuk itu pada dasarnya hanya terletak pada kadar panjang pendeknya isi cerita, kompleksitas isi cerita, serta jumlah pelaku yang mendukung cerita itu sendiri. Prosa lama adalah karya prosa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama Indonesia, yakni masyarakat tradisional. di wilayah Nusantara. Jenis sastra ini pada awalnya muncul sebagai sastra lisan. Di antara jenis-jenis prosa lama itu adalah mite, legenda, fabel, hikayat, dan lain-lain. Jenis-jenis prosa lama tersebut sering pula diistilahkan dengan folklor (cerita rakyat), yakni cerita dalam kehidupan rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan.


Referensi 

https://text-id.123dok.com/document/lzgll6e8q-tema-fakta-fakta-cerita-sarana-cerita.html

http://lib.unnes.ac.id/2422/1/6264.pdf

http://siat.ung.ac.id/files/wisuda/2013-2-88201-311409106-bab1-10012014114553.pdf

https://www.kompas.com/skola/read/2021/02/27/150946269/unsur-unsur-intrinsik-cerita-fiksi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Analisis Sastra Objektif dan Mimetik

Sastra dan Pendidikan Sastra

Pendekatan Analisis Sastra Ekspresif dan Pragmatik