Laporan Bacaan 10 oleh:
Berlian Putri Arifin 21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd
PUISI
A. PENDAHULUAN
Puisi merupakan suatu karya sastra yang terikat oleh bunyi bahasa (rima,
irama, intonasi), bentuk baris (larik) dan bait serta ditandai oleh penggunaan bahasa
yang padat. Ciri utama dalam karya sastra puisi bersifat konsentrif (konsentrasi,
pemusatan) dan intensif (intensifikasi, pemadatan). Kepadatan makna misalnya
ditandai dengan dipilih salah satu diksi saja. Puisi menurut Balai Pustaka adalah
gubahan bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga
mempertajam kesadaran akan pengalaman membangkitkan tanggapan khusus lewat
penataan bunyi, irama dan makna khusus.
Puisi secara umum adalah sebuah hasil karya sastra yang berasal dari
ungkapan atau curahan perasaan dan pemikiran seorang penyair. Puisi dapat dibuat
atas dasar ungkapan perasaan penyair dengan serangkaian bahasa yang sangat indah
serta mengandung sebuah makna, irama, rima, dan bait. Puisi akan lebih mengena
kepada hati pembacanya jika puisinya tersebut dibuat dari hati.
Romantisme diartikan sebagai haluan kesusastraan akhir abad ke-18 yang
mengutamakan perasaan, pikiran, dan tindakan spontanitas. Teori Romantisme
merupakan teori (aliran) yang menunjukkan minat yang besar pada keindahan alam,
kepercayaan asli (agama), curahan hati nurani, alam gaib, dan cara hidup yang
sederhana sebagai pemberontakan terhadap gaya hidup teratur kaum borjuis. Pengikut
teori ini menekankan spontanitas dalam mengungkapkan pikiran, perasaan, dan
tindakan (Sehandi, 2018: 140).
Romantisme ini timbul karena dipicu oleh reaksi terhadap rasionalisme yang
menganggap bahwa segala rahasia alam bisa diselidiki dan diterangkan oleh akal
manusia. Aliran romantisme sangat menekankan pada ungkapan perasaan sebagai
dasar dari perwujudan pemikiran seorang pengarang sehingga pembaca akan
tersentuh emosinya setelah membaca ungkapan pikiran, tindakan, dan perasaannya.
Intinya, romantisme adalah sebuah aliran seni yang dapat menempatkan
perasaan manusia sebagai unsur yang paling dominan. Dan karena cinta merupakan
bagian dari perasaan yang paling menarik, maka seiring berjalannya waktu istilah ini
mengalami penyempitan makna. Sastra romantis pun dapat diartikan sebagai genre
sastra yang berisi tentang kisah-kisah asmara yang indah dan penuh kata-kata yang
memabukkan perasaan yang tertuang dalam puisi. Jadi dalam aliran romantisme
seorang pengarang menggambarkan sebuah realita kehidupan dalam bentuk yang
indah.
B. PEMBAHASAN
1). UNSUR UNSUR PUISI
A. Struktur fisik puisi.
yang dimaksud unsur fisik puisi merupakan sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Secara umum terdapat 6 unsur fisik puisi, yaitu diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, rima, dan topografi. Berikut penjelasannya :
a. Diksi
Diksi adalah pemilihan kata-kata yang digunakan oleh penyair dalam puisinya. Puisi adalah bentuk karya sastra yang padat dengan sedikit kata-kata sehingga diksi atau pemilihan kata menjadi sangat penting dan krusial bagi nilai estetika puisi.
b. Imaji
Imaji adalah unsur yang melibatkan penggunaan indra manusia. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual) dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil).
1) Contoh imaji auditif
Dan kesunyianpun mencekam
Tak ada suara yang terdengar
Kecuali deru angin.
2) Contoh imaji visual
Dan aku melewati
Jalan setapak yang berliku-liku
Dengan ditumbuhi pepohonan
Yang bergeletar daunnya
Oleh angin.
3) Contoh imaji taktil
Tubuhnya begitu lunglai
Diantara dekapan angin gunung
Nafasnya tersengal-sengal
Menahankan dingin yang melekat
c. Kata Konkret
Kata kongkret merupakan kata yang memungkinkan terjadinya imaji. Kata konkret bersifat imajinatif sehingga memunculkan imaji, biasanya berhubungan dengan kata kiasan atau lambang. Conton kata konkret dalam puisi, yaitu :
Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi
Bulan berhianat, Gosokkan tubuhnya pada pucuk pucuk para.
Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu.
Kata konkret tersebut beserta artinya adalah sebagai berikut:
Kuku besi = Kaki kuda yang bersepatu besi
Kulit bumi = Jalan yang tidak beraspal
Penunggang perampok yang diburu = perampok yang naik kuda.
d. Gaya Bahasa
Gaya bahasa atau majas adalah penggunaan bahasa yang bersifat seolah-olah menghidupkan dan menimbulkan makna konotasi dengan menggunakan bahasa figuratif. Beberapa macam-macam majas yang sering digunakan Pada puisi misalnya seperti retorika, metafora, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, repetisi, anafora, antitesis, klimaks, antiklimaks, satire, paradoks dan lain-lain.
e. Rima
Rima atau irama merupakan persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah atau pada akhir baris puisi. Sementara ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ini contoh puisinya :
Tanam melati / di rama-rama
Ubur-ubur / sampingan dua
Sehidup semati/ kita bersama
Satu bubur/ kita berdua.
f. Tipografi
Tipografi atau perwajahan adalah bentuk puisi yang dipenuhi dengan kata, tepi kiri kanan dan tidak memiliki pengaturan baris. Biasanya pada baris puisi tidak selalu diawali huruf besar (kapital) serta tidak diakhiri dengan tanda titik. Contoh puisi yang menggunakan topografi adalah sebagai berikut:
1) Sajak Transmigran II
2) Doktorandus Tikur I, oleh F. Rahardi
3) Tregedi Winka dan Sihka, oleh Sutardji Calzoum Bachri
4) Shang Hai, oleh Sutradji Calzoum Bachri
B. Struktur batin puisi.
Unsur batin puisi merupakan unsur yang berkaitan dengan batin dalam pembacaan puisi. Secara umum ada 4 unsur batin puisi yakni tema, rasa, nada, dan amanat.
a. Tema
Tema adalah unsur utama pada puisi karena tema berkaitan erat dengan makna yang dihasilkan dari suatu puisi. Pada puisi, sebuah tema menjadi landasan dan garis besar dari isi puisi tersebut. Ini contohnya :
Jaring-Jaring Piek Ardijanto
Kali ini
Nelayan menebar jaring di laut
Menangkap ikan
Kali lain
Tuhan menebar jaring maut
Menangkap insan
(Biarkan Angin Itu, 1996)
b. Rasa
Rasa atau feeling pada puisi merupakan sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial, pengalaman, dan psikologi penyair. Contoh puisi dengan perasaan sedih ada pada karya :
1) “Senja di Pelabuhan Kecil” - karya Chairil Anwar
2) “Anakku,” JE. Tatengkeng
3) “Selamat Jalan Anakku,” karya Agnes Sri Hartini
4) “Orang-orang Rangkasbitung,” karya Rendra
c. Nada
Yang dimaksud nada atau suasana pada puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Nada berhubungan dengan tema dan rasa yang ditujukan penyair pada pembaca, bisa dengan nada menggurui, mendikte, nada sombong, nada tinggi atau seolah ingin bekerja sama dengan pembaca. Ini contohnya :
Pahlawan Tak Dikenal
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bunda di dadanya
Senyum bekumnya mau berkata, kita sedang perang.
…..
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalinya
(Suara, 1950)
d. Amanat
Pada puisi, amanat atau tujuan merupakan pesan yang terkandung di dalam sebuah puisi. Amanat dapat ditemukan dengan memaknai puisi tersebut secara langsung atau tidak langsung. Ini contohnya :
Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya
Adakah yang kupunya anak-anakku
Selain buku-buku dan sedikit ilmu
Sumber pengadianku kepadamu
Kalau hari Minggu engkau datang ke rumahku
Aku takut anak-anakku
Kursi-kursi tua yang di sana
Dan meja tulis sederhana
Dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
Semua kepadamu akan bercerita
Tentang hidupku di rumah tangga.
JENIS-JENIS PUISI
Secara umum, puisi terbagi menjadi 3 jenis puisi, diantaranya adalah puisi lama, puisi baru dan puisi kontemporer
1. Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Puisi jenis ini terbagi kedalam beberapa jenis pula, diantaranya adalah pantun, talibun, pantun berkait (seloka), pantun kilat (karmina), gurindam, syair, mantra sll.
- Pantun adalah puisi yang terdiri dari empat larik dengan rima akhir ab-ab. Pantun dapat dibedakan berdasarkan jenisnya, seperti pantun lucu, pantun anak, dan sebagainya.
- Mantra yaitu ucapan-ucapan yang dipercaya dapat mendatangkan kekuatan magic. Biasanya dipakai dalam acara tertentu, contohnya mantra yang dirapal untuk menolak turunnya hujan atau sebaliknya.
- Karmina yaitu salah satu prosa dimana bentuknya lebih pendek dari pantun. Saking pendeknya, biasa juga disebut dengan pantun kilat.
- Seloka yaitu pantun berkait berasal dari Melayu klasik yang berisi pepatah.
- Gurindam yaitu puisi yang terdiri dari dua bait, yang mana tiap baitnya terdiri dari dua baris kalimat dengan rima yang sama. Biasanya terkandung nasihat dan amanat.
- Syair adalah puisi yang tersusun atas empat baris dengan bunyi akhiran yang serupa. Syair biasanya menceritakan sebuah kisah dan di dalamnya terkandung amanat yang ingin disampaikan penyairnya.
- Talibun yaitu pantun yang lebih dari empat baris dan memiliki rima abc-abc.
2. Puisi Baru
Puisi baru adalah puisi yang lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam jumlah baris, suku kata, maupun rima. Beberapa jenis puisi baru adalah sebagai berikut.
- Balada adalah sajak sederhana yang mengisahkan tentang cerita rakyat yang mengharukan. Terkadang disajikan dalam bentuk dialog, atau dinyanyikan.
- Himne (Gita Puja) adalah sejenis nyanyian pujaan yang ditujukan untuk Tuhan, atau Dewa, atau sesuatu yang dianggap penting dan sakral.
- Ode adalah puisi lirik berisikan sanjungan kepada orang yang berjasa dengan nada agung dan tema serius. Umumnya ode ditujukan untuk orang tua, pahlawan dan orang-orang besar
- Epigram yaitu puisi yang berisi tentang ajaran dan tuntunan hidup. Epigram berarti unsur pengajaran, nasihat, membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman hidup.
- Romansa yaitu puisi cerita yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Puisi romansa menimbulkan efek romantisme.
- Elegi yaitu syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, khususnya pada peristiwa kematian.
- Satire yaitu puisi yang menggunakan gaya bahasa berisi sindiran, atau kritik yang disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi.
- Distikon yaitu puisi yang masing-masing bait terdiri dari dua baris (dua seuntai).
- Terzina adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari tiga baris (tiga seuntai).
- Kuatren adalah puisi yang masing-masing bait terdiri dari empat baris (empat seuntai).
- Kuint yaitu puisi yang masing-masing bait terdiri dari lima baris (lima seuntai).
- Sekstet yaitu puisi yang masing-masing bait terdiri dari enam baris (enam seuntai).
- Septima yaitu puisi yang masing-masing bait terdiri dari tujuh baris (tujuh seuntai).
- Oktaf/ Stanza yaitu puisi yang masing-masing bait terdiri dari delapan baris (delapan seuntai).
- Soneta yaitu puisi yang terdiri dari 14 baris yang dibagi menjadi dua, dimana dua bait pertama masing-masing 4 baris, dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Soneta merupakan puisi paling terkenal karena terkesan susah untuk diciptakan. Namun, hal tersebut justru menjadi tantangan tersendiri bagi para penyair.
3. Puisi Kontemporer
Puisi kontemporer adalah jenis puisi yang berusah keluar dari ikatan konvensional. Puisi kontemporer selalu berusaha menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan tidak lagi mementingkan irama, gaya bahasa dan lain-lainnya yang terdapat dalam puisi lama maupun baru.
Puisi kontemporer dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Puisi Mantra, yaitu mengambil sifat-sifat dari mantra.
- Puisi Mbeling, yaitu puisi yang sudah tidak mengikuti aturan umum dan ketentuan dalam puisi.
- Puisi Konkret, yaitu puisi yang lebih mengutamakan bentuk grafis (wajah dan bentuk lainnya) dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media
CARA MEMBUAT PUISI
1. Tentukan Tema atau Judul
Dalam menentukan tema, pilihlah tema yang menurut anda menarik dan sesuai dengan kata hati anda. Puisi bisa menggunakan tema yang berhubungan dengan alam, persahabatan, sosial, pendidikan atau ungkapan hati.
2. Menentukan Kata Kunci
Jika Anda sudah menentukan tema dan judul, langkah selanjutnya adalah menentukan kata kunci akan dikembangkan menjadi kalimat. Misalnya satu kata kunci yang digunakan untuk satu larik, atau satu kata kunci untuk membuat satu bait.
3. Menggunakan Gaya Bahasa
Gaya bahasa akan memperindah puisi itu sendiri. Anda bisa menggunakan berbagai macam majas agar pembaca, atau pendengar tidak bosan membacanya.
Namun, harus digaris-bawahi jika penempatan diksi, atau gaya bahasa yang tidak tepat akan mengurangi bahkan menghilangkan makna dari isi yang terkandung di dalamnya.
4. Kembangkan Puisi Semenarik Mungkin
Selanjutnya adalah mengembangkan kata kunci menjadi kalimat-kalimat indah yang mewakili perasaan Anda. Pilihlah kata yang padat dan sarat makna di dalamnya.
Tiga hal yang berkaitan dengan kata dan larik dalam puisi, yaitu:
- Kata adalah satuan rangkaian bunyi yang ritmis, indah dan merdu.
- Makna kata yang mengandung banyak tafsir.
- Mengandung imajinasi mendalam tentang hal yang dibicarakan.
Cara Membaca Puisi yang Baik
- Ekspresi, mimik muka dan penjiwaan puisi
- Kinesik atau gerakan tubuh yang sesuai dengan puisi yang dibawakan
- Artikulasi atau kejelasan dan ketepatan pelafalan kata.
- Irama Panjang pendek, tinggi rendah, keras lembutnya suara
- Intonasi atau penekanan kata
C. PENUTUP
Bahasa yang digunakan dalam sebuah puisi biasanya juga berusaha
menyatakan sesuatu dengan maksud yang lain. Dalam puisi “The Man He Killed”,
yang dijadikan bahan utama dalam penulisan skripsi ini, bahasa puisi ini sudah
terlihat konotatif sejak kita membaca judulnya. Si aku lirik tergambarkan seperti
sebuah simbol dari sesuatu atau seseorang yang sedang mengalami disorientasi
dalam hidupnya. Dia seperti tidak tahu apa yang dipikirkannya, siapa yang
dipikirkannya, serta bagaimana dia seharusnya berpikir. Simbol si aku lirik yang
digunakan dalam puisi ini sebagai sesuatu atau seseorang yang sedang mengalami
disorientasi dalam hidupnya merupakan sebuah hal yang unik, karena seseorang
jarang sekali digunakan dalam puisi. Saya hanya bisa menduga bahwa penulis
berusaha memaknai secara lain laki- laki tersebut yang mungkin saja merupakan
sebuah refleksi kehidupan dari pengarang sendiri.
Puisi ‘The Man He Killed’ ini juga memberikan sebuah gambaran kepada
kita mengenai gaya-gaya yang digunakan oleh Hardy dalam masa hidupnya yang
penuh dengan rasa pesimisme. Kita dapat melihat pada bait pertama, ketika
digambarkan seseorang prajurit yang membayangkan dalam situasi damai, bukan
di medan pertempuran dengan segala keterbatasannya, mungkin dia akan
mengajak orang yang ia bunuh untuk minum bersama dan menghabiskan waktu
bersama. Kemudian pada bait kedua terlihat bahwa Dia ‘lirik’ mengalami
kebingungan dan ketakutan yang sangat, seolah-olah akan terjadi suatu hal yang
sangat buruk akan menimpanya. Gambaran kemuraman dan keputusasaan itu berlanjut ke dalam tiap-tiap bait berikutnya, yang seolah-olah tidak ada rasa
optimis sedikit pun dalam puisi ini. Ini bisa saja merupakan sebuah refleksi
kehidupan Hardy yang sesungguhnya dalam kehidupannya, di mana Hardy
menulis puisi ini pada Tahun 1902, saat itu terjadi perang boer II. Hal itulah yang
menjadi salah satu kemungkinan Hardy menulis puisi dengan gaya seperti ini.
Referensi :
http://repository.um-surabaya.ac.id/4658/2/BAB_1.pdf
https://hot.liputan6.com/read/4551923/unsur-intrinsik-puisi-lengkap-beserta-penjelasan-dan-contohnya
https://salamadian.com/pengertian-puisi/
Komentar
Posting Komentar