ALIRAN SASTRA
Laporan Bacaan 11 oleh:
Berlian Putri Arifin 21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd
ALIRAN SASTRA
A. PENDAHULUAN
Aliran karya sastra menggambarkan prinsip, pandangan hidup ataupun hal
lain yang dianut oleh sastrawan dalam membuat karya sastra. Aliran dalam karya
sastra biasanya terlihat pada periode tertentu. Setiap periode sastra biasanya ditandai
oleh aliran yang dianut para pengarang pada masa itu. Bahkan unsur aliran yang
menjadi mode pada periode tertentu merupakan ciri khas karya sastra yang berada
pada masa tersebut.
Pada dasarnya, karya sastra dibagi menjadi dua bagian besar yaitu idealisme
dan materialisme. Aliran idealisme menggambarkan dunia yang tidak seperti
kenyataan melainkan dunia yang ada dalam angan-angan. Di dalamnya digambarkan
keindahan hidup yang ideal, yang menyenangkan, penuh kedamaian, kebahagiaan,
ketenteraman, adil makmur dan segala sesuatu yang menggambarkan dunia harapan
yang sesuai dengan tuntutan batin yang menyenangkan yang tidak lagi adanya
keganasan, kecemasan, kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, keterbelakangan,
yang menyusahkan dan menyengsarakan batin. Aliran idealisme ini dapat dibagi
menjadi empat, yaitu romantisme, simbolisme, mistisisme dan surealisme.
Aliran materialisme mengemukakan bahwa dunia sangat bergantung pada
materi dan gerak. Materialisme berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat
kenyataan dapat diselidiki dengan akal manusia. Dalam kesusastraan, aliran ini dapat
dibedakan atas realisme dan naturalisme. Salah satu aliran sastra yang termasuk
kedalam aliran materialisme yang akan dijadikan bahan penelitian oleh peneliti
adalah naturalisme. Aliran naturalisme dicetuskan oleh Émile Zola yang
berkeyakinan bahwa kehidupan manusia dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
Zola terinspirasi oleh peristiwa tragis yang terjadi pada tahun 1875. Novel
L’Inondation diterbitkan pada tahun 1885. Dalam novel ini Zola menceritakan tentang banjir yang mengerikan dan menghancurkan segala sesuatu di Garonne.
Louis Roubieu adalah tokoh utama dalam novel ini, dia adalah petani terkaya di
kotanya. Keluarga Louis Roubieu hidup bahagia sampai akhirnya sungai Garonne
meluap dan gelombangnya meluluhlantakkan rumah dan perkebunannya. Hal
tersebut menjadikan Louis Roubieu tokoh yang mengalami pengurangan kekuatan.
Pengurangan kekuatan tokoh utama dalam novel merupakan salah satu ciri novel
beraliran naturalisme.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk menganalisis
unsur naturalisme pada novel karya Émile Zola yang berjudul L’Inondation dengan
menggunakan pendekatan strukturalisme genetik sebagai pisau bedahnya, oleh
karena itu, peneliti memilih judul ANALISIS UNSUR NATURALISME PADA
NOVEL L’INONDATION KARYA ÉMILE ZOLA MELALUI PENDEKATAN
STRUKTURALISME GENETIK.
B. PEMBAHASAN
a. Aliran-aliran sastra
Aliran sastra berasal dari kata Stroming ( bahasa Belanda ) yang mulai muncul di Indonesia pada zaman pujangga baru. Kata itu bermakna keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham, ditimbulkan karena menentang paham-paham lama.Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap atau jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya.
1). Aliran klasik
Aliran klasik merupakan aliran sastra yang paling kuno yang pernah berkembang di Eropa. Aliran ini timbul sesudah lahirnya gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan (Baath) yang dimulai pada abad 15 M. Diketahui bahwa gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan itu hakikatnya adalah gerakan kebudayaan dan gerakan kebangkitan kesusastraan kontemporer yang kembali ke kesusastraan Arab klasik.Pengertian klasik secara etimologis diambil dari bahasa Latin yaitu Classis yang artinya satuan armada laut. Kemudian berubah makna menjadi satuan pelajaran yaitu kelas yang terdiri atas anak-anak didik. Sastra klasik terdiri atas karya-karya tulis berbahasa Yunani dan Latin Kuno yang nyaris punah ditelan masa.
Para ahli berusaha menyelamatkan karya-karya tulis tersebut, mengingat karya-karya ini mengandung seni dan nilai-nilai kemanusiaan. Karya-karya tulis ini dijadikan sarana yang dianggap tepat dalam pelaksanaan pendidikan terhadap para pemuda di dalam kelas atau ruang sekolah mereka.Ketika kebangkitan ilmu pengetahuan telah berkembang dan orang-orang Eropa mulai kembali ke kebudayaan dan sastra Yunani dan Latin Kuno dengan mencetak serta menerbitkan naskah melalui pengkajian juga penerjemahannya. Mereka mulai menganalisis karya-karya sastra kuno tersebut dan berusaha mengungkapkan kandungan yang terdapat di dalamnya; baik secara langsung yaitu cara analisis dan apresiasi sastra maupun melalui penelaah setiap penemuan para pakar dan peneliti zaman dahulu, seperti Aristoteles dari Yunani dan Ras dari Romawi—kedua pakar ini telah berhasil menemukan dasar-dasar seni sastra. Aristoteles dalam tulisannya yaitu khitabah atau retorika dan puisi. Dan Horatius dalam puisinya yang panjang (seni puisi) atau pesan kepada Al-Benson yaitu puisi yang terinspirasi dari panyair dan kritikus besar klasik Prancis yaitu Boileau dalam rinciannya yang disebut juga sebagai seni puisi. Lasikisme mengikuti prinsip-prinsip seni ini yang dipengaruhi oleh sastra Yunani dan Romawi dengan relevansinya adalah naluri yang damai. Yang kemudian dispesifikasikan menjadi karakteristik seni kemanusiaan yang absolut.
Lebih daripada itu, secara umum, klasik mengandung arti mutu tinggi. Artinya bahwa klasik adalah sesuatu yang mempunyai nilai atau posisi yang diakui dan tidak diragukan. Dalam teori sastra, aliran klasik ini merupakan suatu karya yang memiliki nilai tinggi, selain itu juga aliran ini dijadikan sebagai orientasi dari sebuah karya sastra kuno yang bersifat kekal. Aliran sastra klasik telah menempuh teori sastra Yunani dan Romawi Kuno yang selalu tunduk kepada kaidah-kaidah seni sastra. Maka dari itu, aliran ini mempunyai keistimewaan dalam seni dan kemanusiaan. Keistimewaan dan keunggulan aliran klasik dilihat dari seni sastra. Keindahan dan kefasihan bahasa merupakan ciri khas dari aliran ini yang tidak dapat diabaikan. Arti yang jelas, makna yang mudah, irama puitis dan nada estetis akan selalu menjadi ciri khas aliran klasik yang tidak kalah penting dibandingkan ciri-ciri klasik lainnya.
Aliran klasik selalu mendapatkan rongrongan dari para sastrawan dan pemerhati sastra sendiri. Aliran ini juga dituduh menghambat kemajuan dan perkembangan sastra. Karena terlalu ketat terikat oleh kaidah-kaidah yang menyesatkan. Kritikan dan tuduhan seperti ini kemudian melahirkan aliran baru dalam sastra yaitu romantisme.
2). Aliran Romantik
Romantisisme adalah aliran karya sastra yang sangat mengutamakan perasaan, sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi asli, tetapi telah bertambah dengan unsur perasaan si pengarang. Aliran ini dicirikan oleh minat pada alam dan cara hidup yang sederhana, minat pada pemandangan alam, perhatian pada kepercayaan asli, penekanan pada kespontanan dalam pikiran, tindakan, serta pengungkapan pikiran. Pengikut aliran ini menganggap imajinasi lebih penting daripada aturan formal dan fakta. Aliran ini kadang-kadang berpadu dengan aliran idealisme dan realisme sehingga timbul aliran romantik idealisme dan romantik realisme. Romantik idealisme adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Hasil sastra Angkatan . Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. Sementara romantik realisme mengutamakan perasaan yang bertolak dari kenyataan (contoh: puisi-puisi Chairil Anwar dan Asrul Sani).
3). Aliran Realisme
Realisme adalah aliran karya sastra yang berusaha menggambarkan/ memaparkan/ menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya. Aliran ini umumnya lebih objektif memandang segala sesuatu (tanpa mengikutsertakan perasaan). Sebagaimana kita tahu, Plato dalam teori mimetiknya pernah menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan/ realitas. Berangkat dari inilah kemudian berkembang aliran-aliran, seperti: naturalisme dan determinisme.Realisme sosialis adalah aliran karya sastra secara realis yang digunakan pengarang untuk mencapai cita-cita perjuangan sosialis.
4). Aliran Modernisme
Modernisme merupakan aliran sastra dan budaya pada awal abad XX yang berkisar antara tahun 1910 sampai akhir Perang Dunia II. Aliran ini menolak bentuk dan teknik penyampian aliran sastra periode sebelumnya, dan mempertanyakan kembali nilai-nilai sosial ekonomi masyarakat borjuis. Aliran ini merupakan respons terhadap realisme dan naturalisme. Kedua aliran tersebut dianggap telah menyalahkan gunakan seni. Seni seharusnya memberikan kebebasan dari realitas yang menyesakkan.. Pengikut aliran ini mengatakan seni untuk seni (l’art pour l’art), bukan untuk menyelesaikan masalah sosial.
Untuk menghadapi persoalan ini, para penulis mempunyai visi bagaimana cara mengatasinya walaupun diakui bahwa hal itu bukan merupakan hal yang mudah. Pemerataan keadilan merupakan hal yang sangat penting. Penulis lain mengatakan bahwa sebaiknya mereka mengonsentrasikan perhatian pada masalah daripada solusi. Oleh karena itu, Le Sueur dalam karya-karyanya menggambarkan kemarahan orang-orang yang menderita karena sistem ekonomi kapitalisme gagal memberikan pembagian kekayaan yang merata kepada masyarakat. Pada tahun 1930-an penulis-penulis Amerika mulai menawarkan solusi berdasarkan data-data yang terkumpul, baik dalam bentuk komitmen umum ke bentuk sosialisme atau identifikasi lebih spesifik lagi ke Komunisme Uni Soviet. Solusi-solusi ini menyerang semangat individualisme Amerika. Secara umum isu ini dapat dilihat di bawah topik perjuangan bertahun-tahun antara prinsip unity dan plurality. Moto Amerika yang terkenal
5). Aliran Postmodernisme
Postmodernisme sebagai bentuk reaksi atas modernisme berfikir secara lebih bebas. Postmodernisme mengutamakan pluralisme, menghargai pemaknaan yang bersifat multitafsir dan menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang relatif. Karya sastra bercorak modernisme merujuk kembali pada pola-pola berfikir pramodern, misalnya kebijaksanaan kuno, metafisika dunia timur, dan semacamnya. Ia merupakan bentuk koreksi terhadap tesis-tesis modernisme, salah satunya terkait penyangkalan terhadap kebenaran mutlak.
Corak postmodern di Indonesia muncul setelah berakhirnya angkatan Chairil Anwar atau angkatan ’45. Kemunculannya berkaitan dengan depolitisasi karya sastra yang terjadi pada masa Orde Baru. Depolitisasi sastra tersebut telah menyebabkan pengebirian terhadap karya sastra, karya sastra yang muncul menjadi tidak sesuai dengan realitas sosial politik yang tengah berlangsung. Adanya depolitisasi tersebut membuat para sastrawan lantas mencari bentuk penceritaan yang berbeda, tidak lagi menggunakan realisme sederhana seperti dalam karya sastra bercorak modernisme tetapi menggunakan berbagai simbol yang kompleks. Para pengarang mengangkat masalah-masalah daerah untuk menggambarkan keadaan yang terjadi di pusat. Misalnya, peristiwa yang menimpa Srinthil di desa Paruk seperti yang digambarkan dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari pada dasarnya adalah penggambaran terhadap realitas yang terjadi di pusat pasca G 30 S/PKI.
Salah satu pengaruh aliran postmodern adalah timbulnya aspek lokalitas yang kental dalam karya sastra. Hal itu terlihat dalam karya-karya Umar Kayam, Linus Suryadi, Y.B. Mangunwijaya, Ahmad Tohari, Ajip Rosidi, dan Korrie Layun Rampan. Selain itu, postmodernisme juga mempengaruhi munculnya karya-karya yang bersifat antireal, realitas yang digambarkan pun nisbi dan imajiner seperti dalam karya-karya Putu Wijaya, dan Danarto. Sekedar menyebut beberapa karya bercorak postmodern ini antara lain, Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Merahnya Merah dan Ziarah (Iwan Simatupang), Durga Umayi (Y. B. Mangunwijaya), Kalatidha dan Sepotong Senja untuk Pacarku (Seno Gumira Ajidarma), dan Godlob (Danarto).
b. Karakteristik Aliran-Aliran Sastra Dunia
- Klasik → Mengikuti prinsip-prinsip seni ini yang dipengaruhi oleh sastra Yunani dan Romawi, tunduh kepada kaidah-kaidah, memiliki nilai tinggi, kekal, memiliki keindahan dan kefasihan bahasa, irama dan nada karya sastra yang estetis.
- Romantik → Berkembang di Eropa Barat pada masa Revolusi Industri Prancis, bersifat sentimentil, bebas dari pehamaman aliran klasik yang terlalu tunduk pada kaidah.
- Realisme → Berkembang di Rusia, bersifat objektif, melukiskan kenyataan dalam perkembangan revolusionernya, selaras dengan kebenaran dan fakta sejarah.
- Modernisme → Mengandung rasionalisme, kebebasan demokrasi, pencerahan, dan humanisme serta menganggap karya asli sebagai otentik.
- Postmodernisme → Menolak kecendrungan modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu, berkaitan dengan fenomena dan budaya intelektual yang berangkat dari pengalaman, pemikiran subjektif dan teknologi, penyeimbang, merujuk pada konsep berfikir subjektif, mempunyai karakteristik fragmentasi (terpecah-pecah menjadi kecil), dan ketidakpercayaan terhadap semua hal yang universal.
c. Tokoh-tokoh Sastrawan Setiap Aliran Sastra (Dunia dan Indonesia)
- Aliran Klasik (Leo Tolstoy, Hamzah Fansuri)
- Aliran Romantik (Sir Walter Scott, Buya Hamka)
- Aliran Realisme (Maxim Gorky, Pramoedya Ananta Toer )
- Aliran Modernisme (Johann Casper Goethe, Merari Siregar )
- Aliran Postmodernisme (Jean Francois Lyotard, Ahmad Tohari)
d. Karya Sastra Setiap Aliran Sastra (Dunia dan Indonesia)
- Aliran Klasik (Pride & Prejudice karya Jane Austen, Syair Burung Unggas karya Hamzah Fansuri)
- Aliran Romantik (Pride & Prejudice karya Jane Austen karya Alphonse de Lamartine, Karna Kasihmu karya Amir Hamzah)
- Aliran Realisme ( Жизнь Ненужного Человека karya
- Maxim Gorky, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer )
- Aliran Modernisme (O Cisne Negro karya Thomas Mann, Azab dan Sengsara karya Merari Siregar )
- Aliran Postmodernisme (Terra Nostra karya Fuentes, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari)
C. PENUTUP
Aliran karya sastra menunjukkan prinsip, pandangan hidup, atau hal lain yang dianut oleh seorang sastrawan. Aliran sastra terdiri dari aliran klasik, romantik, realisme, modernisme, dan postmoderinsme yang memiliki karakteristik tersendiri. Aliran sastra klasik merupakan aliran sastra yang paling kuno yang pernah berkembang di Eropa. Aliran ini timbul sesudah lahirnya gerakan kebangkitan ilmu pengetahuan (Baath) yang dimulai pada abad 15 M. Menurut Hemad J. Waluyo, dasar pemikiran aliran romantik ini ialah adanya gambaran terhadap kenyataan hidup dengan penuh keindahan tanpa cela. Aliran sastra realisme adalah aliran karya sastra yang berusaha menggambarkan sesuatu sesuai kenyataan. Modernisme merupakan suatu periode yang mengafirmasi keeksistensian manusia, berdasarkan logika yang bersumber dari daya nalar pemikiran. Post-modernisme merupakan suatu kondisi atau keadaan yang menitik beratkan perhatiannya pada perubahan dalam bidang seni, ekonomi, politik, dan kultural (Giddens 1990; Jenkins, 1995: 6).
Tokoh-tokoh sastrawan dalam setiap aliran sastra yaitu Aliran Klasik (Leo Tolstoy, Hamzah Fansuri), Aliran Romantik (Sir Walter Scott, Buya Hamka), Aliran Realisme (Maxim Gorky, Pramoedya Ananta Toer ), Aliran Modernisme (Johann Casper Goethe, Merari Siregar ), Aliran Postmodernisme (Jean Francois Lyotard, Ahmad Tohari).
Karya sastra dalam setiap aliran sastra yaitu, Aliran Klasik (Pride & Prejudice karya Jane Austen, Syair Burung Unggas karya Hamzah Fansuri), Aliran Romantik (Pride & Prejudice karya Jane Austen karya Alphonse de Lamartine, Karna Kasihmu karya Amir Hamzah), Aliran Realisme (Жизнь Ненужного Человека karya Maxim Gorky, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer), Aliran Modernisme (O Cisne Negro karya Thomas Mann, Azab dan Sengsara karya Merari Siregar), Aliran Postmodernisme (Terra Nostra karya Fuentes, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari).
Daftar Pystaka
http://repository.upi.edu/11187/4/S_PRS_0907051_Chapter1.pdf
https://alkalam.id/mengenal-aliran-klasik-dan-romantik-dalam-sastra/
https://winarialubis.wordpress.com/2017/10/18/aliran-sastra/
https://literart09.wordpress.com/2013/01/19/lutfi-ali-ramdani-1209503104/#:~:text=Modernisme%20merupakan%20aliran%20sastra%20dan,nilai%20sosial%20ekonomi%20masyarakat%20borjuis
Komentar
Posting Komentar