Interpretasi Sastra

Laporan Bacaan 14 oleh:

Berlian Putri Arifin  21016063
Dosen pengampu : Dr. Abdurrahman, M.pd



    INTERPRETASI SASTRA


A. PENDAHULUAN

   Karya sastra merupakan dunia imajinatif yang merupakan hasil kreasi pengarang setelah merefleksi lingkungan sosial kehidupannya. Dunia dalam dunia sastra dikreasikan dan sekaligus ditafsirkan lazimnya melalui bahasa. Mengkaji karya sastra akan membantu kita menangkap makna yang terkandung di dalam pengalaman-pengalaman pengarang yang disampaikan melalui para tokoh imajinatifnya, dan memberikan cara-cara memahami segenap jenis kegiatan sosial kemasyarakatan, serta maksud yang terkandung di dalam kegiatan-kegiatan tersebut, baik kegiatan masyarakat kita sendiri maupun masyarakat lainnya. 
   Karya sastra mengandung aspek-aspek kultural, bukan individual. Karya sastra dihasilkan oleh seorang pengarang, tetapi masalah-masalah masyarakat pada umumnya. Karya sastra juga menceritakan seorang tokoh, suatu tempat dan kejadian tertentu, dan dengan sendirinya melalui bahasa pengarang, tetapi yang diacu adalah manusia, kejadian, dan bahasa sebagaimana dipahami oleh manusia pada umumnya. Aspek-aspek pokok kritik sastra adalah analisis, interpretasi (penafsiran), dan evaluasi atau penilaian. Karya sastra merupakan sebuah sebuah struktur yang komplek, maka untuk memahaminya perlu adanya analisis, yaitu penguraian terhadap 2 bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Sesungguhnya, analisis itu merupakan salah satu sarana penafsiran atau interpretasi (Pradopo, 2008:93)



B. PEMBAHASAN

a. Hakikat Interpretasi Terhadap Karya Sastra

     Interpretasi teks adalah cara membaca dan menjelaskan teks yang lebih sistematis dan lengkap. Tidak ada batasan yang jelas antara membaca dan menginterpretasikan sebuah teks. Bahkan seorang kretikus dan ahli sastra yang satu dengan yang lain seringkali menginterpretasikan sebuah teks dengan cara yang amat berbeda. Bahwa perbedaan yang timbul tersebut dapat didiskusikan. Pada dasarnya perbedaan interpretasi suatu teks sastra tersebut terjadi disebabkan oleh sifat teks sastra, perbedaan yang besar antar pembaca, dan cara pergaulan sastra dalam masyarakat.
   Sifat teks sastra> Hubungan terpenting adalah penanganan bahan dalam teks sastra dan hubungan khusus antara teks sastra dan dunia nyata. Suatu teks sastra seringkali menarik perhatian karena di dalamnya terdapat banyak kiasan dan susunannya yang tidak lazim. Kiasan dan susunan tersebut terkadang membuat sebuah teks sastra menjadi bermakna ganda atau ambigu, sehingga membawa pembaca kepada interprestasi yang berbeda-beda. Pada umumnya menginterpretasikan puisi lebih rumit daripada menginterpretasikan roman.
     Adanya hubungan yang khusus antara teks sastra dengan dunia nyata, menjadikan sebuah teks sastra akan lebih terbuka dan menghadapkan pembaca kepada masalah-masalah dalam interpretasi. Kemungkinan untuk mengenal dan menginterpretasikan kenyataan yang direka berbeda menurut ragam dan menurut periode. Dalam cerita dan roman realistik, kemungkinan tersebut lebih besar dibandingkan dalam teks-teks modernistik atau pasca modernistik. Sedangkan kebanyakan dalam cerita kisahan dapat diinterpretasikan secara relatif bermakna tunggal, namun hubungan antara peristiwa dan tokoh tidak selalu mudah ditentukan sehingga menyebabkan perbedaan interpretasi.
    Dalam kekhususan atau keistimewaan suatu teks sastra, cerita rekaan, anekdot, atau mitos sering kali ditemukan suatu makna yang lebih umum. Teks ingin mengatakan lebih daripada apa yang diungkapkan secara langsung. Makna yang lebih umum tidak sama bagi semua orang. Langkah dari yang khusus ke yang umum tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi menuntut pilihan tertentu. Pembaca memiliki kebebsab tertentu dalam penentuan makna umum atau makna sebenarnya, yang juga disebut makna tematik. Pembaca juga dapat memberi makna lain dari niatan pengarang kepada teks. Misalnya, interpretasi feministis tertentu, sedangkan interpretasi psikoanalistis sengaja melakukan hal tersebut.
   Sehingga, selain sifat-sifat teks itu sendiri, perbedaan interpretasi dapat juga bersumber pada perbedaan antar pembaca. Perbedaan antar pembaca secara perorangan tidak dapat digambarkan dengan istilah umum karena banyaknya kemungkinan variasi dalam hal umum, pengetahuan, minat, dan latar belakang. Perbedaan antar kelompok dapat digambarkan secara sistematis, dengan bertolak dari perbedaan dalam hal pendidikan, lapisan masyarakat, agama, atau gender.

   Pembaca akan menginterpretasikan sebuah teks dengan cara berbeda-beda, terutama karena perbedaan latar belakang pengetahuan sastra dan pengalaman kesastraannya. Dalam hal pengalaman, pembaca yang berpengalaman tidak akan terlalu mendapat kesulitan dalam membaca suatu teks. Sedangkan perbedaan dalam pengetahuan latar belakang antara lain mengenai kode dan konvensi. Kode adalah sistem peraturan yang menentukan bahwa tanda-tanda tertentu dapat dihubungkan dengan makna-makna tertentu. Konvensi adalah pola atau struktur yang lazim digunakan dalam suatu ragam sastra. Kode dan konvensi terkadang digunakan dengan arti yang sama, akan tetapi pengertian kode lebih ketat ketimbang konvensi. Kode yang penting dalam teks adalah kode bahasa. Setiap bahasa mengenal peraturan-peraturan semantik, sintaksis, dan lain sebagainya. Berdasarkan peraturan tersebut, teks akan mendapat maknanya. Suatu teks sastra dapat dipahami dengan baik apabila memenuhi unsur pengetahuan tentang kode bahasa (kode primer) dan penggunaan kode sastra (kode sekunder). Contoh kode sastra atau sekunder adalah kode yang menentukan bahwa gejala bentuk mendapat suatu makna atau disemantisasikan. Pengetahuan tentang kode dan konvensi hanya merupakan sebagian dari latar belakang pengetahuan kita, karena di sampig itu masih ada pengetahuan tentang tema, motif, dan cerita atau bahan yang kita peroleh dengan membaca atau dengan cara lain.
  Pada interpretasi khusus juga diperlukan latar belakang pengetahuan khusus. Misalnya, interpretasi yang cenderung ke sosiologi, itu berarti pengetahuan tentang kondisi sosial pada masa karya sastra ditulis, hal itu dilatarbelakangi oleh minat seorang ahli sosiologi sastra terhadap hubungan antara karya sastra dan latar belakang sosialnya. Minat khusus seperti itu merupakan bagian dari pandangan tertentu tentang sastra, yaitu sifat, fungsi, dan nilainya. Perbedaan dalam latar belakang pengetahuan yang dianggap penting serta perbedaan dalam pandangan sastra lainnya menghasilkan perbedaan interpretasi yang jelas dan dapat dideskripsikan. 

  Perbedaan dalam interpretasi terjadi karena pergaulan kesastraan dalam suatu lingkungan kebudayaan. Karya sastra juga diterjemahkan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Terjemahan ke dalam bahasa lain selalu merupakan interpretasi. Oleh karena itu, penerjemah harus berkali-kali mengambil keptusan karena bahasa sasaran menawarkan kemungkinan dan memberi batasan yang berbeda dengan bahasa sumber. Interpretasi dipandang sebagai suatu pemberian arti secara sistematis, yang mengusahakan penjelasan atau keterangan yang memadai dan memuaskan.


b. Hal-hal Yang Mempengaruhi Interpretasi Terhadap Karya Sastra

1. Pembaca memiliki kebebasan tertentu dalam penentuan makna umum yang juga disebut makna temati.

2. Perbedaan antarpembaca secara individu karena banyakanya kemungkinan variasi yang terjadi dalam hal umum, minat, pengetahuan, dan latar belakang.

3. Perbedaan antarpembaca secara kelompok dapat digambarkan secara sistematis, dengan bertolak belakang dari perbedaan dalam hal pendidikan, lapisan masyarakat, agama, atau jenis kelamin.


c. Hakikat Evaluasi Terhadap Karya Sastra

    Evaluasi merupakan saduran dari bahasa Inggris "evaluation" yang diartikan sebagai penaksiran atau penilaian. Nurkancana menyatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan berkenaan dengan proses untuk menentukan nilai dari suatu hal.
    Kritik sastra adalah pertimbangan baik buruk karya sastra, pertimbangan karya seni atau tidaknya dalam kata pertimbangan terkandung arti memberi nilai sebab itu, dalam kritik sastra tak dapat ditinggalkan pekerjaan menilai. Karya sastra adalah termasuk karya seni, seperti halnya karya-karya seni lainnya. Seni musik, seni lukis, seni tari, dan sebagainya. Didalamnya sudah mengandung penilaian seni. Dan kata seni ini berhubugan dengan penegertian “indah” atau “keindahan”. Kembali pada karya sastra, karya sastra sebagai karya seni memerlukan pertiimbangan, memerlukan penilaian akan “seninya”. Sampai sejauh manakah nilai seni suatu karya sastra ataupun mengapakah suatu karya sastra dikatakan mempunyai nilai seni, sedang karya sastra yang lain kurang atau tidak mempunyai nilai seni atau dengan kata lain mengapakah suatu karya sastra ini “indah” sedangkan karya sastra lain tidak.
   Di depan telah pernah dikutip pendapat rene wellek bahwa kita tak dapat memahami dan menganalisis karya seni tanpa menunjuk kepada nilai, karena kalau kita menyatakan suatu struktur sebagai karya seni, kita sudah memakai timbangan penilaian. Jadi, bila mengeritik karya sastra tanpa penilaian, maka karya sastra yang kita kritik itu tetap tidak dapat kita pahami baik-buruknya, atau berhasil tidaknya sastrawan mengungkapkan pengalaman jiwanya. Membcarakan atau menganalisis karya sastra tanpa pembicaraan penilaian menjadi kehilangan sebagian artinya, kehilangan “rasanya” , karena dalam karya sastra yang menarik adalah sifat seninya, dan sifat estetikanya lah yang dominan dalam karya sastra. Sebab itu, pembicaraan karya sastra sebagai karya seni yang harus disertai penilaian. Kritik sastra tidak dapat dipisahkan dengan penilaian.
    Sekarang pembicaraan kita ahlihkan pada cara penilian. Bagaimana karya sastra yang bernilai; syarat-syarat harus dipenuhi supaya karya sastra dapat dikatakan bernilai?
   Syukurlah rasanya menjawab pertanyaan ini bila kita tidak menghubungkan dengan arti dan hakikat karya sastra serta fungsinya suatu nilai tdak dapat dipisahkan dari hakikat dan gunanya. Kekurangan pengertian tentang cara menilai ini kerap kali menimbulkan kesesatan dan penilaian yang tidak tepat. Sering hal ini menyebabkan orang menilai karya sastra menyimpang dari hakikat dan guna (fungsi) karya sastra, atau melakukan kepalsuan dalam menilai karya sastra sebagai karya seni, hanya menjadi alat propaganda yang sama nilainya dengan teks pidato misalnya.

     Aoh Kartahadimadja (Beberapa paham angkatan 45. Tintamas, Jakarta, hlm. 13). Mengemukakan bagaimana H.B. Jassinmenyaring sajak-sajak yang diterimanya, maka syarat-syarat pertama yang diletakannya ialah kepada keindahan dan barulah pada moral. Baik keindahan atau moral itu subyektif, kata Aoh! Kalau demikian di manakah batasan-batasan yang menentkan baik buruknya suatu sajak? Kemudian dijawabnya:
“Sebuah keindahan seni biasanya tidak perlu menuntut pengertian yang diletakkan dalam hasil-seni itu. Apabila keindahan terasa, cukuplah bagi sipendengar atau sipeninjau untk menerimanya. Akan tetapi bila pengertian tu didapatnya, maka lebih senanglah ia”.

     Dalam menjawab bagaimana baik-buruknya sajak, di sini Aoh menggunakan perasaan intuitif saja hingga di sini tidak ada ketentuan apakah dasar-dasar konkret untuk enentukan indah tidaknya karya sastra. Ini tentu tidak cukup bagi kita yang menginginkan kiteria-kriteria yang tertentu dan terang untuk menentukan nilai sajak (karya sastra). Dalam kutipan di atas, Aoh tidak menganalisis hubungan nilai, hakikat sastra, dan fungsi seni sastra hingga jawabnya sangat subjektif dan tidak jelas. Sebab itu, betapa sangat pentingnya dalam menilai karya sastra untuk mengetahui hubungan nilai, hakikat, fungsi, dan penilaian karya sastra, sebagai berikut.
“Bagaimana orang menilai dan menentukan nilai sastra? Harus kita jawab dengan definisi-definisi. Seharusnya orang menilai seni sastra seperti adanya; dan menaksir nilai itu menurut kadar sastra. Hakikat, fungsi, dan penilaian erat berhubungan.”

d. Ragam Evaluasi Terhadap Karya Sastra

1) Hermeneutika Tradisional
Hermeneutika tradisional biasa disebut hermeneutika “romantik” dirintis oleh Friedrich Schleiermacher, kemudian dilanjutkan Wilhelm Dilthey. Mereka berpandangan bahwa verstehen (pemahaman) adalah proses mental dan pemikiran yang aktif, merespons pesan dari pikiran yang lain dengan bentukbentuk yang berisikan makna tertentu Pada konteks ini dapat diketahui bahwa dalam menafsirkan teks, Schleiermacher lebih menekankan pada “pemahaman pengalaman pengarang” atau bersifat psikologis, sedangkan Dilthey menekankan pada “ekspresi kehidupan batin” atau makna peristiwa-peristiwa sejarah (Lefevere, 1997: 47). Apabila dicermati, keduanya dapat dikatakan memahami 
hermeneutika sebagai penafsiran reproduktif. Namun, pandangan mereka ini diragukan oleh Lefevere (1977) karena dipandang sangat sulit dimengerti bagaimana proses ini dapat diuji secara intersubjektif. Keraguannya ini agaknya didukung oleh pandangan Valdes (1987: 58) yang menganggap proses seperti itu serupa dengan teori histori yang didasarkan pada penjelasan teks menurut konteks pada waktu teks tersebut disusun dengan tujuan mendapatkan pemahaman yang definitif.

2) Hermeneutika Dialektik
Varian hermeneutika dialektik ini sebenarnya dirumuskan oleh Karl Otto Apel (dalam Lefevere, 1977: 49). Ia mendefinisikan verstehen tingkah laku manusia sebagai suatu yang dipertentangkan dengan penjelasan berbagai kejadian alam. Apel mengatakan bahwa interpretasi tingkah laku harus dapat dipahami dan 
diverifikasi secara intersubjektif dalam konteks kehidupan yang merupakan permainan bahasa. 
Sehubungan dengan hal itu, lebih jauh Lefevere (1977: 49) menilai bahwa secara keseluruhan hermeneutika dialektik yang dirumuskan Apel sebenarnya cenderung mengintegrasikan berbagai komponen yang tidak berhubungan dengan hermeneutika itu sendiri secara tradisional. Apel tampakanya mencoba memadukan antara penjelasan (erklaren) dan pemahaman (verstehen); keduanya harus saling mengimplikasikan dan melengkapi satu sama lain. Ia menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat memahami (verstehen) sesuatu tanpa pengetahuan faktual secara potensial.

3) Hermeneutika Ontologis
Varian yang terakhir adalah hermeneutika ontologis. Aliran hermeneutika ini digagas oleh Hans-Georg Gadamer. Gadamer ( dalam Lefevere, 1977: 50) mengatakan bahwa semua yang membutuhkan penetapan dan pemahaman dalam suatu percakapan memerlukan hermeneutika. Begitu pun ketika dilakukan pemahaman terhadap teks sastra. Dalam mengemukaka deskripsinya, ia bertolak dari pemikiran filosof Martin Heidegger. Gadamer tidak lagi memandang konsep verstehen sebagai konsep metodologis, melainkan memandang verstehen sebagai pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis. Dalam hal ini, Gadamer menolak konsep hermeneutika sebagai metode. Kendatipun menurutnya hermeneutika adalah pemahaman, dia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis.



C. PENUTUP

    Sastra adalah sebuah karya yang terbuka terhadap berbagai interpretasi (penafsiran). Interpretasi merupakan proses menyampaikan pesan (makna) yang eksplisit dan implisit termuat dalam karya sastra. Interpreter adalah jurubahasa atau penerjemah pesan yang terdapat dalam karya sastra. Pesan yang tidak begitu saja langsung jelas kepada setiap pembaca oleh karena bahasa yang banyak digunakan dalam karya sastra adalah bahasa konotatif. Bahasa yang mendukung berbagai Karena cirinya yang demikian inilah, maka dibutuhkan metode interpretasi yang cocok dan hermeneutika sangat memungkinkan untuk maksud tersebut. Hermeneutika dikenal sebagai ilmu interpretasi makna dari sebuah teks. lebih terkait dengan teks simbolik yang memiliki beberapa makna ( multiple meaning ).

     Interpretasi teks adalah cara membaca dan menjelaskan teks yang lebih sistematis dan lengkap. Tidak ada batasan yang jelas antara membaca dan menginterpretasikan sebuah teks. Bahkan seorang kretikus dan ahli sastra yang satu dengan yang lain seringkali menginterpretasikan sebuah teks dengan cara yang amat berbeda. Bahwa perbedaan yang timbul tersebut dapat didiskusikan. Pada dasarnya perbedaan interpretasi suatu teks sastra tersebut terjadi disebabkan oleh sifat teks sastra, perbedaan yang besar antar pembaca, dan cara pergaulan sastra dalam masyarakat.

    Kritik sastra adalah pertimbangan baik buruk karya sastra, pertimbangan karya seni atau tidaknya dalam kata pertimbangan terkandung arti memberi nilai sebab itu, dalam kritik sastra tak dapat ditinggalkan pekerjaan menilai. Karya sastra adalah termasuk karya seni, seperti halnya karya-karya seni lainnya. Seni musik, seni lukis, seni tari, dan sebagainya. Didalamnya sudah mengandung penilaian seni. Dan kata seni ini berhubugan dengan penegertian “indah” atau “keindahan”. Kembali pada karya sastra, karya sastra sebagai karya seni memerlukan pertiimbangan, memerlukan penilaian akan “seninya”. Sampai sejauh manakah nilai seni suatu karya sastra ataupun mengapakah suatu karya sastra dikatakan mempunyai nilai seni, sedang karya sastra yang lain kurang atau tidak mempunyai nilai seni atau dengan kata lain mengapakah suatu karya sastra ini “indah” sedangkan karya sastra lain tidak.




Daftar Pusrtaka

Rafli, Hidayah. 2015. "Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia". [Online]. Tersedia: http://raflihidayah6.blogspot.com/2015/06/memahami-berbagai-pendekatan-dalam.html?m=1, diakses pada tanggal 22 November 2021 pukul 17.22

Manuaba, Putera. 2001. "Hermeneutika dan Interpretasi Sastra". Jurnal: FSU in the Lime Light Vol.8.No.1.

Asmana, Abi. "Interpretasi Teks Sastra". [Online]. Tersedia: https://legalstudies71.blogspot.com/2016/11/interpretasi-teks-sastra.html?m=1, diakses pada tanggal 22 November 2021 pukul 16.54

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Analisis Sastra Objektif dan Mimetik

Sastra dan Pendidikan Sastra

Pendekatan Analisis Sastra Ekspresif dan Pragmatik